Senin, 23 Februari 2026

Bestprofit | Emas Turun di Bawah $5.149 Tertekan Tarif & Geopolitik

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Data-AS-Melemah-Emas-Rebound-Tipis-3.jpg

Bestprofit (24/2) – Harga emas turun ke bawah $5.149 per ons pada Selasa setelah mencatat penguatan selama empat hari beruntun. Koreksi ini terjadi ketika pelaku pasar mulai mengevaluasi ulang risiko tarif terbaru Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar global. Pergerakan ini menandai fase konsolidasi setelah reli yang didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven dalam beberapa sesi sebelumnya.

Selama empat hari terakhir, emas sempat mendapatkan dukungan dari kekhawatiran investor terhadap ketegangan dagang dan risiko geopolitik. Namun, ketika detail kebijakan mulai lebih jelas dan pasar mencerna ulang implikasinya, sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan. Aksi ambil untung inilah yang turut menekan harga emas pada perdagangan terbaru.

Koreksi harga emas bukan berarti sentimen defensif sepenuhnya menghilang. Sebaliknya, dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa pasar saat ini bergerak sangat responsif terhadap perkembangan kebijakan dan pernyataan pejabat tinggi, khususnya dari Amerika Serikat.

Agenda Tarif Global Kembali Mengemuka

Dari sisi perdagangan, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menghidupkan kembali agenda tarif global setelah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pekan lalu membatalkan banyak bea masuk yang diberlakukan tahun sebelumnya. Putusan tersebut menjadi titik balik penting dalam arah kebijakan perdagangan AS, memaksa pemerintah untuk merumuskan kembali strategi tarifnya.

Sebagai respons, pemerintah mengumumkan tarif baru sebesar 10% yang mulai berlaku Selasa. Tidak berhenti di situ, Trump juga mengancam akan menaikkannya menjadi 15% apabila diperlukan. Pernyataan ini langsung memicu reaksi pasar, karena menunjukkan bahwa arah kebijakan perdagangan masih sangat dinamis dan berpotensi berubah dalam waktu singkat.

Kebijakan tarif kerap menjadi instrumen politik sekaligus ekonomi. Dalam konteks ini, kebijakan baru tersebut tidak hanya berdampak pada arus perdagangan global, tetapi juga pada sentimen risiko investor. Ketika tarif dinaikkan, kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global cenderung meningkat, sehingga emas sering kali mendapatkan dorongan sebagai aset lindung nilai.

Namun, dalam jangka pendek, ketidakpastian mengenai implementasi dan ruang lingkup tarif membuat pasar lebih berhati-hati. Investor menimbang apakah kebijakan ini benar-benar akan diterapkan secara luas atau hanya menjadi bagian dari strategi negosiasi.

Ancaman Kenaikan Tarif dan Dampaknya pada Volatilitas

Trump juga memperingatkan bahwa negara-negara yang “bermain-main” dengan perjanjian dagang yang sudah ada dapat menghadapi tarif yang lebih tinggi. Sinyal keras ini menegaskan bahwa kebijakan tarif bisa diperluas sewaktu-waktu, tergantung pada dinamika hubungan dagang bilateral.

Bagi pasar keuangan, pernyataan seperti ini meningkatkan volatilitas. Ketidakpastian kebijakan membuat pelaku pasar sulit memproyeksikan dampak jangka panjang terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas mata uang. Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya menjadi salah satu instrumen yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen.

Meski demikian, penurunan harga emas pada Selasa menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bereaksi secara linear terhadap risiko. Ada kalanya investor memilih menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum meningkatkan eksposur pada aset safe haven. Hal ini mencerminkan keseimbangan antara kekhawatiran dan optimisme yang masih saling tarik-menarik.

Volatilitas tinggi pada emas juga dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. Ketika dolar menguat atau imbal hasil naik, emas yang tidak memberikan bunga menjadi relatif kurang menarik. Oleh karena itu, dinamika tarif tidak bisa dilihat secara terpisah dari faktor makro lainnya.

Fokus Pasar pada Pembicaraan AS–Iran

Selain isu perdagangan, perhatian pasar juga tertuju pada pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlanjut pada Kamis. Negosiasi ini berkaitan dengan isu nuklir yang telah lama menjadi sumber ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Trump menyatakan bahwa ia lebih memilih penyelesaian melalui jalur negosiasi. Namun, ia juga memperingatkan adanya konsekuensi serius jika kesepakatan nuklir tidak tercapai. Pernyataan ini menjaga ketidakpastian tetap tinggi, karena membuka kemungkinan eskalasi apabila pembicaraan tidak membuahkan hasil.

Isu geopolitik seperti ini biasanya memberikan dukungan terhadap emas. Ketika risiko konflik meningkat, investor cenderung mencari perlindungan pada aset yang dianggap aman dan likuid. Oleh sebab itu, meski harga emas terkoreksi pada Selasa, permintaan defensif diperkirakan belum sepenuhnya surut.

Ketegangan di Timur Tengah memiliki implikasi luas, termasuk terhadap harga energi dan stabilitas kawasan. Setiap perkembangan signifikan dalam pembicaraan AS–Iran dapat memicu pergerakan tajam di pasar komoditas, termasuk emas.

Dinamika Safe Haven di Tengah Ketidakpastian

Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang cenderung menguat saat ketidakpastian meningkat. Namun, dalam praktiknya, pergerakan emas dipengaruhi oleh kombinasi faktor, mulai dari kebijakan moneter, nilai tukar dolar, hingga arus modal global.

Dalam situasi saat ini, pasar menghadapi dua sumber ketidakpastian sekaligus: kebijakan tarif dan risiko geopolitik. Secara teori, kombinasi ini seharusnya mendukung harga emas. Akan tetapi, koreksi yang terjadi menunjukkan bahwa pasar juga mempertimbangkan faktor teknikal dan posisi spekulatif yang sudah cukup padat setelah reli empat hari.

Aksi ambil untung menjadi hal wajar setelah kenaikan beruntun. Banyak investor jangka pendek memilih mengamankan profit sebelum muncul katalis baru yang lebih jelas. Dengan demikian, penurunan harga emas kali ini lebih mencerminkan konsolidasi daripada perubahan tren besar.

Prospek Emas ke Depan

Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan dua isu utama tersebut. Jika tarif benar-benar dinaikkan ke 15% atau diperluas cakupannya, potensi perlambatan ekonomi global dapat kembali mendorong permintaan emas. Sebaliknya, jika negosiasi dagang menunjukkan kemajuan, tekanan pada emas bisa berlanjut.

Dari sisi geopolitik, keberhasilan pembicaraan AS–Iran akan mengurangi premi risiko di pasar. Namun, kegagalan negosiasi atau munculnya eskalasi baru dapat memicu lonjakan harga emas secara cepat.

Investor juga perlu mencermati respons pasar obligasi dan dolar AS. Kombinasi suku bunga, inflasi, dan ekspektasi kebijakan moneter akan tetap menjadi faktor penentu utama dalam jangka menengah.

Secara keseluruhan, koreksi harga emas di bawah $5.149 per ons mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap perkembangan terbaru. Meski mengalami penurunan, emas tetap berada dalam radar investor sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian yang belum sepenuhnya reda. Dalam lingkungan global yang sarat risiko kebijakan dan geopolitik, volatilitas emas diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Minggu, 22 Februari 2026

Bestprofit | Emas Tembus $5.150 di Tengah Uji Tarif Trump

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Stabil-Dolar-Kuat-Batasi-Kenaikan.jpg

Bestprofit (23/2) – Harga emas kembali menunjukkan taringnya di pasar global. Logam mulia ini melanjutkan reli dan mencatat kenaikan mingguan ketiga secara berturut-turut, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat. Situasi memanas setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan penggunaan kekuasaan darurat oleh Donald Trump untuk memberlakukan tarif perdagangan.

Keputusan tersebut menimbulkan tanda tanya besar terkait arah kebijakan tarif AS ke depan. Di tengah ketidakpastian ini, investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), terutama ketika stabilitas perdagangan global kembali dipertaruhkan.

Putusan Mahkamah Agung dan Dampaknya pada Kebijakan Tarif

Putusan Mahkamah Agung yang membatasi kewenangan presiden dalam menggunakan kekuasaan darurat untuk kepentingan tarif menciptakan dinamika baru dalam politik perdagangan AS. Selama ini, kebijakan tarif menjadi salah satu instrumen utama pemerintahan Trump dalam menekan mitra dagang dan memperkuat posisi negosiasi Amerika.

Namun, dengan adanya pembatalan tersebut, muncul spekulasi mengenai kelanjutan kebijakan proteksionisme yang selama ini menjadi ciri khas strategi perdagangan Trump. Meski pejabat senior AS menyatakan bahwa putusan tersebut tidak otomatis membatalkan kesepakatan yang telah dinegosiasikan, ketidakjelasan tetap membayangi pasar.

Kondisi ini diperburuk oleh pernyataan Trump pada Sabtu yang menyebutkan rencana kenaikan tarif global dari 10% menjadi 15%. Rencana tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan langkah proteksionisme, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan baru dengan mitra dagang utama.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Reaksi Uni Eropa dan Risiko Perdagangan Global

Ketidakpastian kebijakan AS turut memicu respons dari Eropa. Uni Eropa mengancam akan menunda ratifikasi pakta perdagangan dengan Amerika Serikat hingga terdapat kejelasan arah kebijakan tarif.

Ancaman tersebut menambah lapisan risiko baru dalam perdagangan lintas kawasan. Jika negosiasi kembali tersendat atau terjadi eskalasi tarif, dampaknya bisa meluas pada rantai pasok global, investasi internasional, serta pertumbuhan ekonomi dunia.

Pasar keuangan secara umum tidak menyukai ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas dan perak.

Harga Emas Tembus Level Psikologis

Pada perdagangan awal pekan, emas batangan sempat menguat hingga 0,9% dan bergerak di atas level $5.150 per ons. Level ini menjadi perhatian pasar karena dianggap sebagai titik psikologis penting yang mencerminkan kuatnya momentum kenaikan.

Emas spot tercatat naik 0,8% menjadi $5.145,79 per ons pada pukul 07:31 di Singapura. Kenaikan ini memperpanjang tren positif dalam tiga minggu terakhir, sekaligus mempertegas posisi emas sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi.

Reli ini bukan semata-mata dipicu oleh isu tarif, tetapi juga didukung oleh faktor lain seperti pelemahan dolar AS serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pelemahan Dolar Tambah Daya Tarik Emas

Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat melemah 0,2% pada Jumat. Pelemahan dolar memberikan dorongan tambahan bagi harga emas, karena logam mulia ini dihargai dalam mata uang AS.

Ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini meningkatkan permintaan global dan mendukung kenaikan harga.

Hubungan terbalik antara dolar dan emas telah lama menjadi pola yang diperhatikan pelaku pasar. Dalam konteks saat ini, kombinasi ketidakpastian kebijakan dagang dan pelemahan dolar menciptakan momentum ganda bagi penguatan emas.

Perak Ikut Terkerek Naik

Tidak hanya emas yang menikmati reli. Harga perak juga menguat signifikan, naik 1,9% dan memperpanjang tren positifnya. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi pelemahan dolar serta meningkatnya permintaan safe haven.

Selain sebagai aset lindung nilai, perak juga memiliki fungsi industri yang luas, mulai dari sektor elektronik hingga energi terbarukan. Oleh karena itu, pergerakan harga perak sering kali dipengaruhi oleh dua faktor sekaligus: sentimen investasi dan prospek pertumbuhan ekonomi.

Dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini, permintaan investasi terhadap perak meningkat, mengikuti jejak emas sebagai instrumen perlindungan nilai.

Safe Haven Kembali Jadi Primadona

Ketika risiko meningkat—baik akibat ketegangan perdagangan, ketidakpastian politik, maupun volatilitas pasar keuangan—aset safe haven cenderung menjadi pilihan utama investor. Emas memiliki reputasi panjang sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil dalam jangka panjang.

Lonjakan minat terhadap emas saat ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap stabilitas kebijakan perdagangan AS. Selama arah kebijakan belum jelas dan potensi eskalasi tarif masih terbuka, permintaan terhadap logam mulia diperkirakan tetap kuat.

Selain itu, ketegangan dagang juga dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global. Jika tarif meningkat dan negosiasi tersendat, aktivitas perdagangan bisa melambat, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan dan meningkatkan risiko resesi. Dalam skenario seperti itu, emas biasanya menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan.

Prospek Ke Depan: Konsolidasi atau Lanjut Reli?

Pertanyaan besar bagi pelaku pasar kini adalah apakah reli emas akan berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi. Secara teknikal, penembusan di atas level $5.150 per ons membuka peluang untuk penguatan lebih lanjut, terutama jika sentimen risiko tetap tinggi.

Namun, jika terdapat kejelasan kebijakan dari pemerintah AS atau tercapai kesepakatan dagang yang stabil dengan mitra utama, tekanan terhadap emas bisa meningkat karena investor kembali beralih ke aset berisiko.

Faktor lain yang akan memengaruhi pergerakan emas adalah kebijakan suku bunga dan inflasi. Jika tekanan inflasi meningkat atau bank sentral mengambil sikap yang lebih akomodatif, daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi juga akan semakin kuat.

Kesimpulan

Reli emas selama tiga pekan berturut-turut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatasi penggunaan kekuasaan darurat oleh Donald Trump telah memicu dinamika baru dalam kebijakan tarif.

Ancaman kenaikan tarif hingga 15% serta respons keras dari Uni Eropa semakin mempertegas risiko ketegangan perdagangan global. Ditambah dengan pelemahan dolar AS, kondisi ini menciptakan kombinasi ideal bagi penguatan emas dan perak.

Selama ketidakpastian masih membayangi dan arah kebijakan belum benar-benar final, emas kemungkinan akan tetap menjadi primadona di pasar global. Bagi investor, periode seperti ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi dan perlindungan nilai tetap penting dalam menghadapi dinamika ekonomi dan politik yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Kamis, 19 Februari 2026

Bestprofit | Emas Stabil di $5.000, The Fed Jadi Kunci

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Berhenti-Lari-Fokus-Beralih-ke-Suku-Bunga-1.jpg

Bestprofit (20/2) – Harga emas bergerak stabil di sekitar $5.000 per ons setelah menguat selama dua sesi beruntun, di tengah pasar yang kembali menimbang risiko geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan pagi di Asia, emas spot turun tipis 0,1% ke $4.990,09 per ons, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar setelah reli singkat sebelumnya.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski sentimen safe haven masih kuat, investor belum sepenuhnya yakin untuk mendorong harga kembali ke rekor tertinggi. Kombinasi faktor geopolitik, arah suku bunga Amerika Serikat, serta dinamika pasar energi menjadi penentu utama arah emas dalam jangka pendek.

Geopolitik Timur Tengah Kembali Memanas

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama pasar global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran hanya memiliki sekitar 10–15 hari untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Washington. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah laporan bahwa AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, yang disebut sebagai pengerahan terbesar sejak periode menjelang perang Irak 2003.

Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa konflik terbuka dapat terjadi apabila negosiasi gagal mencapai titik temu. Bagi pasar keuangan, situasi seperti ini hampir selalu meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai, termasuk emas.

Investor global cenderung beralih ke emas ketika risiko geopolitik meningkat karena logam mulia ini dianggap memiliki nilai intrinsik yang relatif stabil dibandingkan aset berisiko seperti saham. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, emas sering kali menjadi “pelabuhan aman” untuk melindungi nilai kekayaan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dampak pada Pasar Energi dan Premi Risiko

Ketegangan geopolitik juga menjaga premi risiko di pasar energi. Harga minyak mentah bertahan di area tertinggi dalam beberapa bulan terakhir karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah—wilayah yang memegang peran penting dalam produksi dan distribusi energi global.

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi tambahan di berbagai negara. Inflasi yang tinggi dapat menjadi faktor pendukung emas, karena logam mulia ini sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap penurunan daya beli mata uang.

Namun, hubungan antara minyak, inflasi, dan emas tidak selalu linear. Jika inflasi mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, maka daya tarik emas bisa tertahan karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih mahal.

Arah Kebijakan Suku Bunga AS Masih Jadi Kunci

Selain faktor geopolitik, arah suku bunga AS tetap menjadi penggerak utama emas. Kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Federal Reserve sangat menentukan sentimen pasar terhadap logam mulia.

Emas biasanya diuntungkan ketika suku bunga turun, karena biaya peluang memegang emas—yang tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi—menjadi lebih rendah. Sebaliknya, ketika suku bunga tinggi atau diperkirakan tetap tinggi lebih lama, emas cenderung tertekan.

Dalam perkembangan terbaru, komentar sejumlah pejabat The Fed mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga yang terlalu dalam tahun ini. Pasar yang sebelumnya berharap pelonggaran agresif kini harus menyesuaikan proyeksinya. Hal ini membuat reli emas tertahan meskipun risiko geopolitik meningkat.

Pergerakan Dolar dan Dampaknya ke Emas

Indeks dolar AS juga memainkan peran penting dalam pergerakan emas. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Bloomberg Dollar Spot Index relatif datar pada hari tersebut, meskipun telah menguat sekitar 0,8% sepanjang pekan.

Dolar yang lebih kuat biasanya menekan harga emas, karena membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, pelemahan dolar cenderung mendukung kenaikan emas.

Kombinasi dolar yang stabil dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan membuat pergerakan emas cenderung sideways di sekitar $5.000 per ons, tanpa dorongan kuat untuk menembus level psikologis baru dalam waktu dekat.

Volatilitas Tinggi Sejak Rekor Januari

Pasar emas masih berada dalam fase volatil sejak gejolak besar di akhir Januari. Saat itu, harga sempat menembus rekor di atas $5.595 per ons sebelum terkoreksi tajam dalam waktu singkat.

Lonjakan dan penurunan cepat tersebut mencerminkan rapuhnya posisi spekulatif di pasar berjangka. Ketika harga menembus level psikologis penting, aksi ambil untung dan likuidasi posisi leveraged dapat mempercepat koreksi.

Volatilitas tinggi ini membuat investor jangka pendek lebih berhati-hati, sementara investor jangka panjang cenderung melihat setiap koreksi sebagai peluang akumulasi, terutama jika fundamental pendukung masih bertahan.

Diversifikasi dari Aset Negara Jadi Penopang

Di tengah dinamika tersebut, sejumlah faktor struktural dinilai masih menopang tren jangka panjang emas. Salah satunya adalah meningkatnya diversifikasi investor dari obligasi dan mata uang negara (sovereign assets).

Ketidakpastian geopolitik global, tingginya utang pemerintah di banyak negara maju, serta perubahan lanskap ekonomi global mendorong sebagian investor dan bank sentral untuk meningkatkan porsi emas dalam portofolio cadangan mereka.

Langkah ini tidak hanya didorong oleh pertimbangan imbal hasil, tetapi juga manajemen risiko jangka panjang. Emas dipandang sebagai aset yang tidak memiliki risiko kredit dan tidak bergantung pada kebijakan satu negara tertentu.

Perhatian ke Kinerja Produsen: Newmont

Dari sisi korporasi, perhatian pasar turut tertuju pada Newmont, produsen emas terbesar dunia. Perusahaan tersebut memperkirakan produksi emas tahun ini akan lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Penurunan ini dikaitkan dengan rencana peningkatan dan penyesuaian di beberapa aset tambangnya. Bagi pasar, proyeksi produksi yang lebih rendah bisa berdampak pada keseimbangan pasokan global, terutama jika permintaan tetap kuat.

Meskipun pasar emas bersifat global dan tidak bergantung pada satu produsen, perubahan output dari pemain besar seperti Newmont tetap dapat memengaruhi sentimen, khususnya dalam jangka menengah.

Pergerakan Logam Mulia Lain

Di pasar logam mulia lainnya, perak tercatat turun 0,7% ke $77,99 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium relatif stabil.

Pergerakan perak sering kali lebih volatil dibandingkan emas karena memiliki karakter ganda sebagai logam mulia dan logam industri. Jika prospek ekonomi global melemah, permintaan industri terhadap perak bisa menurun, sehingga menekan harganya meskipun emas menguat karena faktor safe haven.

Platinum dan paladium, yang banyak digunakan dalam industri otomotif, juga dipengaruhi oleh prospek produksi kendaraan dan kebijakan emisi global.

Prospek Jangka Pendek: Konsolidasi atau Breakout?

Dengan harga bertahan di sekitar $5.000 per ons, pasar kini menghadapi dua kemungkinan utama: konsolidasi lanjutan atau breakout baru.

Jika ketegangan geopolitik meningkat secara signifikan, atau jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan yang mendorong The Fed melonggarkan kebijakan lebih cepat, emas berpotensi kembali mendekati rekor tertingginya.

Sebaliknya, jika dolar terus menguat dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi, harga emas mungkin bergerak dalam rentang terbatas atau bahkan terkoreksi lebih dalam.

Kesimpulan

Harga emas yang stabil di sekitar $5.000 per ons mencerminkan keseimbangan antara sentimen safe haven dan tekanan dari kebijakan moneter yang masih ketat. Ketegangan di Timur Tengah memberikan dukungan jangka pendek, sementara arah suku bunga AS tetap menjadi faktor penentu utama.

Volatilitas tinggi sejak rekor Januari menunjukkan bahwa pasar emas masih sensitif terhadap perubahan sentimen. Namun, faktor struktural seperti diversifikasi cadangan dan meningkatnya ketidakpastian global tetap menjadi fondasi kuat bagi tren jangka panjang.

Dalam lingkungan global yang sarat risiko dan penuh ketidakpastian, emas tampaknya masih akan mempertahankan perannya sebagai salah satu aset lindung nilai utama dunia.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Rabu, 18 Februari 2026

Bestprofit | Emas Melemah, Sorotan ke FOMC

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Pulih-Menjelang-Data-Inflasi-AS.jpg

Bestprofit (19/2) – Harga emas bergerak stabil setelah sempat melonjak sekitar 2% pada hari Rabu, di tengah perdagangan Asia yang cenderung sepi karena sebagian pasar tutup libur Tahun Baru Imlek. Minimnya partisipasi dari sejumlah pusat keuangan utama di kawasan membuat volume transaksi relatif tipis, sehingga pergerakan harga cenderung lebih sensitif terhadap sentimen global.

Di awal perdagangan, harga emas batangan berada di kisaran $4.975 per ons. Permintaan beli kembali muncul pada sesi sebelumnya setelah emas sempat mencatat penurunan selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut memicu aksi “buy the dip” dari sebagian pelaku pasar yang memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang masuk.

Meski demikian, stabilitas yang terlihat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan ketenangan pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, emas bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan geopolitik.

Bayang-Bayang Rekor Tertinggi

Pergerakan emas masih terasa berombak sejak terjadi gejolak besar di awal bulan. Saat itu, harga sempat terkoreksi tajam dari rekor tertingginya yang pernah menembus di atas $5.595 per ons. Lonjakan ke level tersebut sebelumnya didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan meningkatnya permintaan aset aman.

Koreksi tajam dari level puncak membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita dan data ekonomi. Investor kini cenderung bereaksi lebih cepat terhadap setiap sinyal baru, baik yang berasal dari bank sentral, laporan ekonomi, maupun perkembangan geopolitik.

Fluktuasi yang terjadi mencerminkan fase konsolidasi setelah reli panjang. Dalam fase ini, harga biasanya mencari keseimbangan baru sambil menunggu katalis berikutnya yang mampu menentukan arah tren jangka menengah.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Fokus pada Langkah Berikutnya The Fed

Sorotan utama pelaku pasar tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari Federal Reserve. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral terlihat lebih berhati-hati untuk segera memangkas suku bunga.

Sikap hati-hati ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pelonggaran kebijakan terlalu cepat dapat memicu kembali tekanan inflasi. Bagi pasar emas, sinyal tersebut menjadi faktor penting. Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset), sehingga ketika suku bunga tinggi atau bertahan lebih lama, daya tarik emas relatif berkurang dibandingkan instrumen berbunga seperti obligasi.

Sebaliknya, jika ada indikasi kuat bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga, emas biasanya mendapat dorongan karena biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, setiap pernyataan atau dokumen resmi dari The Fed menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Dimensi Politik: Donald Trump dan Suku Bunga

Situasi ini juga berpotensi memunculkan dinamika politik baru. Donald Trump kerap menyuarakan dukungan terhadap suku bunga yang lebih rendah guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.

Pernyataan semacam ini dapat memunculkan perdebatan mengenai independensi bank sentral. Jika tekanan politik terhadap The Fed meningkat, pasar bisa merespons dengan volatilitas tambahan. Dalam konteks tersebut, emas sering kali menjadi pilihan lindung nilai (hedging) terhadap ketidakpastian kebijakan.

Ketika investor melihat potensi gangguan terhadap independensi bank sentral atau ketidakpastian arah kebijakan moneter, permintaan terhadap aset aman seperti emas cenderung meningkat. Hal ini karena emas dianggap relatif bebas dari risiko kebijakan domestik suatu negara tertentu.

Dolar AS Menguat, Emas Tertahan

Di sisi lain, penguatan dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi harga emas. Setelah data ekonomi menunjukkan kondisi yang masih tangguh, dolar AS mengalami penguatan signifikan. Produksi industri AS tercatat naik paling besar dalam hampir setahun, sementara pesanan “barang modal inti” juga meningkat lebih kuat dari perkiraan.

Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga dapat menekan permintaan global. Hubungan terbalik antara dolar dan emas sering kali menjadi faktor penentu dalam jangka pendek.

Selain itu, data ekonomi yang solid mengurangi urgensi bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Kombinasi antara ekonomi yang kuat dan dolar yang menguat menciptakan tekanan ganda bagi emas, meskipun tidak serta-merta membalikkan tren jangka panjang.

Pergeseran Minat Investor Global

Ke depan, sejumlah bank besar masih menilai bahwa tren emas berpotensi kembali menguat. Ada beberapa alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, isu independensi The Fed dapat kembali mencuat dan menciptakan ketidakpastian. Kedua, sebagian investor global mulai melakukan diversifikasi dari mata uang dan obligasi ke aset riil seperti emas.

Perubahan preferensi ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap. Ketika imbal hasil obligasi dianggap kurang menarik atau risiko pasar meningkat, emas menjadi alternatif untuk menjaga nilai kekayaan.

Selain investor ritel dan institusi, bank sentral di berbagai negara juga berperan dalam permintaan emas global. Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral meningkat sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Ketegangan Geopolitik dan Permintaan Aset Aman

Pasar juga terus mengikuti perkembangan di Timur Tengah, termasuk perbincangan antara AS dan Iran yang belum menghasilkan terobosan signifikan. Ketegangan di kawasan tersebut kerap menjadi katalis kenaikan harga emas, terutama jika berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi atau memperluas konflik regional.

Setiap eskalasi geopolitik biasanya memicu lonjakan permintaan terhadap aset aman. Emas, bersama dengan dolar AS dan obligasi pemerintah AS, termasuk dalam kategori ini. Namun dalam beberapa periode, emas dapat menjadi pilihan utama ketika ketidakpastian meningkat secara tajam.

Selain Timur Tengah, dinamika global lain seperti konflik regional, sanksi ekonomi, atau ketegangan dagang juga berpotensi memengaruhi arah harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Menanti Katalis Berikutnya

Dengan berbagai faktor yang saling tarik-menarik—mulai dari kebijakan moneter, data ekonomi, politik domestik AS, hingga geopolitik global—emas saat ini berada dalam fase penantian. Harga yang stabil di sekitar $4.975 per ons mencerminkan keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual.

Dalam jangka pendek, arah emas kemungkinan besar akan ditentukan oleh kombinasi data inflasi, pernyataan pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik. Jika data ekonomi AS mulai menunjukkan perlambatan yang lebih jelas, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali menguat dan mendukung kenaikan emas.

Sebaliknya, jika ekonomi tetap solid dan dolar terus menguat, emas bisa menghadapi tekanan lanjutan. Namun dengan latar belakang ketidakpastian global yang masih tinggi, emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai.

Bagi investor, situasi ini menuntut strategi yang lebih selektif dan disiplin manajemen risiko. Fluktuasi harga yang tajam dalam beberapa pekan terakhir menjadi pengingat bahwa pasar emas, meski dikenal sebagai aset aman, tetap rentan terhadap perubahan sentimen global.

Pada akhirnya, emas tetap berada di persimpangan antara kebijakan moneter dan dinamika geopolitik. Selama kedua faktor tersebut belum menunjukkan arah yang jelas dan konsisten, pergerakan emas kemungkinan akan tetap berombak—namun dengan potensi kenaikan yang tetap terbuka dalam jangka menengah hingga panjang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Selasa, 17 Februari 2026

Bestprofit | Bank Besar Bullish, Emas Masih Bimbang

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_NFP-Kuat-Emas-Melemah-CPI-Jadi-Penentu-1.jpg

Bestprofit (18/2) – Harga emas bergerak relatif stabil setelah mencatat penurunan selama dua hari beruntun, di tengah aktivitas perdagangan yang cenderung tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di sejumlah negara Asia. Minimnya partisipasi pelaku pasar membuat likuiditas menurun, sehingga pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek meskipun tanpa katalis fundamental yang besar.

Pada awal perdagangan, emas batangan berada di kisaran US$4.880 per ons, setelah sebelumnya terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi berturut-turut. Penurunan ini terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan daya tarik logam mulia tersebut. Dalam kondisi pasar yang sepi, pergerakan harga dapat menjadi lebih fluktuatif karena volume transaksi yang rendah memperbesar dampak setiap aksi beli atau jual.

Dampak Penguatan Dolar AS

Kinerja emas dalam beberapa hari terakhir sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks utama dolar sempat menguat hingga 0,4% sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan bagi emas karena logam mulia dihargakan dalam mata uang tersebut. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.

Hubungan terbalik antara emas dan dolar merupakan pola klasik di pasar keuangan global. Saat dolar menguat karena ekspektasi suku bunga tinggi atau ketahanan ekonomi AS, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar. Sebaliknya, ketika dolar melemah, emas sering kali mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dari Rekor Tertinggi ke Koreksi Tajam

Sebelumnya, reli kuat membawa emas mencetak rekor baru di atas US$5.595 per ons pada akhir Januari. Namun, lonjakan tersebut dinilai terlalu cepat dan memicu kondisi pasar yang “overbought” atau jenuh beli. Koreksi tajam pun tak terhindarkan, dengan harga sempat merosot mendekati US$4.400 hanya dalam dua sesi perdagangan.

Pergerakan ekstrem ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan sentimen. Setelah kenaikan signifikan, banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan, memicu aksi jual besar-besaran. Meski emas telah pulih sebagian dari titik terendahnya, analis menilai logam mulia ini belum menemukan level support yang benar-benar kokoh untuk menahan tekanan lanjutan.

Prospek Jangka Menengah Masih Positif

Di tengah volatilitas jangka pendek, sejumlah bank global tetap optimistis terhadap prospek emas. Institusi seperti BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan tren kenaikan masih berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.

Faktor-faktor pendukung yang disebut masih solid antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, pergeseran minat investor dari obligasi dan mata uang tertentu, serta kekhawatiran terkait independensi bank sentral Amerika Serikat. Dalam situasi ketidakpastian global, emas kerap menjadi aset pilihan untuk melindungi nilai kekayaan.

Sorotan pada Kebijakan Moneter The Fed

Dalam jangka pendek, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Setiap pernyataan pejabat bank sentral menjadi petunjuk penting bagi pelaku pasar untuk memperkirakan langkah selanjutnya terkait suku bunga. Ekspektasi pemangkasan suku bunga umumnya menjadi sentimen positif bagi emas, karena logam ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen berbunga seperti obligasi. Oleh karena itu, prospek pelonggaran moneter sering kali mendorong kenaikan harga emas.

Emas sempat menguat singkat pada Jumat lalu setelah data inflasi menunjukkan tren moderat. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral memiliki ruang untuk menurunkan biaya pinjaman dalam waktu dekat.

Pernyataan Pejabat Federal Reserve

Komentar terbaru dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran beragam. Gubernur The Fed, Michael Barr, menyatakan bahwa suku bunga sebaiknya tetap stabil “untuk beberapa waktu” hingga terdapat bukti lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target 2%. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian otoritas moneter dalam memastikan stabilitas harga.

Di sisi lain, Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai masih ada peluang penurunan suku bunga tahun ini apabila inflasi terus menunjukkan tren melandai. Pernyataan ini membuka ruang optimisme bagi pasar emas, meskipun belum memberikan kepastian waktu yang jelas.

Perbedaan nada dalam pernyataan pejabat bank sentral tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter masih sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk. Investor pun akan mencermati rilis data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi sebagai penentu arah berikutnya.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan bervariasi. Pada pukul 08.51 waktu Singapura, harga emas spot tercatat nyaris tidak berubah di US$4.880,18 per ons. Sementara itu, perak turun sekitar 1% ke US$72,83 per ons. Platinum menguat 0,9%, sedangkan palladium naik 0,5%.

Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar komoditas yang dipengaruhi faktor serupa, seperti nilai tukar dolar dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global. Namun, masing-masing logam juga memiliki faktor fundamental spesifik, seperti permintaan industri dan pasokan tambang, yang dapat memengaruhi harga secara berbeda.

Likuiditas Rendah dan Potensi Volatilitas

Perdagangan yang tipis selama libur panjang di Asia meningkatkan potensi volatilitas. Dalam kondisi likuiditas rendah, transaksi dalam jumlah relatif kecil dapat memicu pergerakan harga yang signifikan. Hal ini membuat pasar lebih rentan terhadap rumor, spekulasi, atau pernyataan pejabat yang biasanya tidak terlalu berdampak saat volume perdagangan normal.

Investor jangka pendek cenderung berhati-hati dalam situasi seperti ini, sementara pelaku pasar jangka panjang mungkin melihat fluktuasi sebagai peluang akumulasi, terutama jika fundamental jangka menengah tetap mendukung.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor global. Ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, serta dinamika inflasi akan menjadi variabel kunci. Jika inflasi terus menurun dan membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga, emas berpotensi kembali menguji level resistensi penting.

Namun, jika data ekonomi AS tetap kuat dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap emas bisa berlanjut. Dalam konteks ini, volatilitas kemungkinan tetap tinggi hingga pasar mendapatkan kepastian arah kebijakan.

Secara keseluruhan, meskipun harga emas saat ini bergerak relatif stabil setelah koreksi tajam, sentimen pasar masih rapuh. Optimisme jangka menengah tetap ada, didukung oleh proyeksi sejumlah bank besar dan ketidakpastian global. Akan tetapi, dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan terus bergerak dalam kisaran terbatas sambil menunggu katalis baru yang lebih kuat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Kamis, 12 Februari 2026

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Tekanan Jual

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Tertekan-Saat-Data-Tenaga-Kerja-Lemah-4.jpg

Bestprofit (13/2) – Harga emas kembali menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami penurunan tajam yang dipicu oleh aksi jual luas di berbagai pasar keuangan global. Pada perdagangan awal, harga emas batangan berada di kisaran $4.920 per ons, menyusul anjloknya harga sebesar 3,2% pada sesi sebelumnya — penurunan harian terbesar dalam sepekan terakhir. Gejolak ini mencerminkan dinamika pasar yang semakin sensitif terhadap sentimen makroekonomi, teknologi, dan kebijakan moneter.

Penurunan mendadak tersebut terjadi bersamaan dengan kegelisahan di Wall Street, di mana harga aset dari berbagai kelas — mulai dari saham hingga komoditas — mengalami tekanan. Kekhawatiran tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pendapatan perusahaan menjadi salah satu faktor yang memicu aksi jual besar-besaran. Ketidakpastian mengenai bagaimana AI akan memengaruhi struktur biaya, produktivitas, dan persaingan usaha membuat investor bersikap lebih berhati-hati.

Tekanan dari Wall Street dan Perdagangan Algoritmik

Anjloknya harga emas tidak berdiri sendiri. Tekanan yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat ikut menyeret komoditas logam mulia ini. Ketika investor melepas aset berisiko, dampaknya sering kali merembet ke instrumen lindung nilai seperti emas, terutama jika terjadi kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Penurunan dramatis pada hari Kamis yang tidak memiliki katalis jelas memunculkan spekulasi bahwa perdagangan algoritmik turut memperparah situasi. Michael Ball, seorang ahli strategi makro di Bloomberg, menyebut bahwa aksi jual kemungkinan diperkuat oleh penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisors/CTA) yang menggunakan model komputer untuk membaca dan merespons pergerakan harga secara otomatis.

Perdagangan berbasis algoritma dapat mempercepat pergerakan pasar, baik naik maupun turun. Ketika sinyal teknikal menunjukkan tren negatif, sistem otomatis ini cenderung mengeksekusi penjualan dalam volume besar, sehingga menciptakan efek bola salju yang memperdalam penurunan harga.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Aksi Ambil Untung dan Volatilitas Logam Mulia

Selain faktor algoritmik, aksi ambil untung (profit taking) juga menjadi penyebab potensial pelemahan harga emas dan perak. Kedua logam tersebut sebelumnya telah mencatat pemulihan signifikan setelah penurunan historis di awal bulan. Ketika harga kembali mendekati level tinggi, sebagian investor memilih mengunci keuntungan mereka.

Perak bahkan mengalami penurunan hampir 11% pada hari Kamis, menunjukkan bahwa volatilitas tidak hanya terjadi pada emas. Perdagangan logam mulia sejak awal bulan memang sangat bergejolak, dengan pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat. Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian global yang masih tinggi, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.

Meski demikian, harga emas spot tercatat naik tipis 0,4% menjadi $4.940,79 per ons pada pukul 08.28 waktu Singapura. Perak naik 0,6% menjadi $75,88, sementara platinum dan paladium juga mencatatkan kenaikan. Indeks Spot Dolar Bloomberg relatif tidak berubah, menandakan stabilitas sementara di pasar mata uang.

Menanti Data Inflasi AS dan Sikap The Fed

Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan Jumat mendatang. Angka inflasi tersebut akan menjadi indikator penting dalam membentuk ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan berikutnya dari Federal Reserve.

Sebelumnya, data ketenagakerjaan Januari yang kuat telah mengurangi urgensi bagi bank sentral AS untuk segera memangkas suku bunga pada pertengahan tahun. Pasar tenaga kerja yang solid memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Bagi emas, dinamika suku bunga sangat krusial. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil.

Emas Turun di Bawah $5.000: Koreksi atau Awal Tren Baru?

Kembalinya harga emas di bawah level psikologis $5.000 per ons memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah ini sekadar koreksi sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam?

Secara historis, emas sering mengalami koreksi tajam dalam tren naik jangka panjang. Pergerakan harga yang cepat dan signifikan sering kali mencerminkan dinamika pasar jangka pendek, bukan perubahan fundamental jangka panjang. Dalam konteks saat ini, tidak ada perubahan besar pada faktor-faktor struktural yang sebelumnya mendorong kenaikan harga emas.

Ketegangan geopolitik global masih berlangsung di berbagai kawasan. Selain itu, perdebatan mengenai independensi bank sentral dan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal sejumlah negara juga tetap menjadi latar belakang yang mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Prospek Bullish dari Bank-Bank Global

Terlepas dari volatilitas terbaru, sejumlah bank investasi global tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas. BNP Paribas SA memperkirakan harga emas dapat mencapai $6.000 per ons pada akhir tahun. Proyeksi tersebut didasarkan pada kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan pergeseran preferensi investor.

Pandangan serupa juga datang dari Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. yang menilai bahwa tren kenaikan emas masih memiliki fondasi kuat. Mereka menyoroti meningkatnya minat terhadap aset alternatif sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global dan potensi pelemahan mata uang utama.

Beberapa analis juga mencatat adanya perubahan struktural dalam alokasi portofolio global. Investor institusional mulai mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah dan mata uang tradisional, serta meningkatkan porsi pada emas dan aset riil lainnya sebagai langkah diversifikasi risiko.

Pergeseran Aset dan Ketidakpastian Global

Salah satu pendorong utama kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir adalah pergeseran kepercayaan terhadap aset tradisional. Di tengah lonjakan utang pemerintah dan kebijakan moneter ultra-longgar pada periode sebelumnya, sebagian investor mencari perlindungan nilai jangka panjang.

Ketika inflasi meningkat dan volatilitas pasar saham membesar, emas kembali menegaskan perannya sebagai penyimpan nilai (store of value). Meskipun harga dapat berfluktuasi tajam dalam jangka pendek, banyak investor melihat emas sebagai instrumen perlindungan terhadap risiko sistemik.

Selain itu, meningkatnya penggunaan teknologi dan perdagangan algoritmik menambah kompleksitas dinamika pasar. Pergerakan harga kini dapat dipengaruhi oleh sinyal teknikal dan model statistik dalam hitungan detik, memperbesar amplitudo fluktuasi.

Kesimpulan: Stabilitas Sementara di Tengah Ketidakpastian

Stabilisasi harga emas setelah penurunan tajam memberikan sedikit kelegaan bagi investor. Namun, volatilitas yang tinggi menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian. Data inflasi AS dan sikap lanjutan dari The Fed akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga emas dalam jangka pendek.

Dalam jangka menengah hingga panjang, prospek emas tetap didukung oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan pergeseran preferensi investasi global. Meskipun koreksi tajam dapat terjadi sewaktu-waktu, banyak analis percaya bahwa tren kenaikan emas belum berakhir.

Bagi investor, kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih disiplin dan berbasis strategi. Diversifikasi portofolio, pemantauan data ekonomi, serta pemahaman terhadap dinamika perdagangan algoritmik menjadi kunci dalam menghadapi pasar yang semakin kompleks. Harga emas mungkin berfluktuasi, tetapi perannya sebagai aset lindung nilai tetap relevan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Selasa, 10 Februari 2026

Bestprofit | Emas Cari Arah, Data AS Jadi Penentu

 

 

Bestprofit (11/2) – Harga emas dunia (XAU/USD) kembali melemah pada perdagangan sesi awal Asia, Rabu, dengan pergerakan mendekati level $5.045. Pelemahan ini terjadi setelah logam mulia tersebut mengalami aksi jual besar-besaran dalam beberapa sesi sebelumnya, memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah harga emas sudah menemukan titik terendahnya, atau justru masih berpotensi turun lebih jauh?

Di tengah kondisi tersebut, perhatian pasar global tertuju pada sejumlah faktor penting, mulai dari rilis data ekonomi Amerika Serikat yang tertunda, meningkatnya selera risiko investor, hingga ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Tekanan Jangka Pendek dari Penguatan Dolar AS dan Risk Appetite

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas dalam jangka pendek adalah meningkatnya selera risiko (risk appetite) di pasar keuangan global. Ketika investor cenderung lebih berani mengambil risiko, aset safe haven seperti emas biasanya kehilangan daya tariknya.

Selain itu, permintaan terhadap Dolar AS (USD) juga menunjukkan tanda-tanda penguatan kembali. Penguatan dolar kerap menjadi sentimen negatif bagi emas, mengingat logam mulia ini diperdagangkan dalam denominasi USD. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.

Kombinasi antara meningkatnya risk appetite dan rebound dolar AS inilah yang membuat pergerakan harga emas masih berada di bawah tekanan, meskipun sebelumnya sempat mencatat reli yang cukup signifikan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan AS–Iran Membatasi Penurunan Harga Emas

Meski menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi, potensi penurunan harga emas dinilai masih terbatas. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang secara historis menjadi faktor pendukung bagi aset lindung nilai seperti emas.

Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan militer apabila Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington. Isu-isu yang dipermasalahkan mencakup pengayaan nuklir, program rudal balistik, hingga kebijakan regional Iran.

Pernyataan tersebut muncul di tengah aktivitas diplomatik Iran, di mana kepala keamanan Iran Ali Larijani bertemu dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq Al Said. Pertemuan ini bertujuan membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran yang berlangsung pada pekan sebelumnya, menandakan bahwa tensi politik masih jauh dari kata reda.

Emas Masih Relevan sebagai Aset Lindung Nilai

Volatilitas pasar yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir sempat memunculkan keraguan mengenai efektivitas emas sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan. Namun, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan pandangan tersebut.

Mark Haefele, Kepala Investasi Manajemen Kekayaan Global di UBS Group AG, menilai bahwa kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan. Menurutnya, peran emas sebagai aset safe haven masih sangat relevan di tengah ketidakpastian global.

“Gelombang volatilitas baru-baru ini telah mempertanyakan nilai emas sebagai lindung nilai terhadap fluktuasi geopolitik dan pasar. Kami percaya kekhawatiran tersebut berlebihan, dan reli emas akan berlanjut,” ujar Haefele.

Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa koreksi harga emas saat ini lebih bersifat teknikal dan sementara, bukan perubahan tren jangka panjang.

Pasar Bersikap Wait and See Menjelang Data Penting AS

Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data-data ini dinilai krusial karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Laporan pekerjaan AS untuk bulan Januari, yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah selama empat hari, dijadwalkan rilis pada Rabu sore waktu setempat. Data ini akan menjadi fokus utama pasar dalam jangka pendek.

Proyeksi Nonfarm Payrolls dan Tingkat Pengangguran

Laporan ketenagakerjaan tersebut diperkirakan menunjukkan bahwa Nonfarm Payrolls (NFP) meningkat sekitar 70.000 pada Januari. Angka ini mencerminkan perlambatan penciptaan lapangan kerja dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS diproyeksikan tetap stabil di kisaran 4,4%. Jika data aktual menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan, hal ini dapat meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish.

Sebaliknya, data yang lebih kuat dari ekspektasi berpotensi memperkuat dolar AS dan kembali menekan harga emas.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Selanjutnya

Selain laporan ketenagakerjaan, perhatian pasar juga tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data inflasi ini akan menjadi indikator penting untuk menilai tekanan harga di ekonomi AS.

Tanda-tanda inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, sehingga melemahkan dolar AS. Dalam kondisi tersebut, harga emas dan komoditas lain yang didenominasikan dalam USD berpotensi mendapatkan dorongan naik.

Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi atau meningkat dapat memperkuat posisi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, yang menjadi sentimen negatif bagi emas.

Kesimpulan: Emas di Persimpangan Sentimen Global

Pergerakan harga emas saat ini berada di persimpangan antara tekanan makroekonomi dan dukungan geopolitik. Di satu sisi, penguatan dolar AS dan meningkatnya selera risiko menekan harga emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketegangan geopolitik AS–Iran serta potensi pelemahan data ekonomi AS memberikan bantalan bagi harga logam mulia ini.

Dengan banyaknya agenda ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan, volatilitas harga emas diperkirakan akan tetap tinggi. Investor dan pedagang disarankan untuk mencermati setiap rilis data dan perkembangan geopolitik, karena keduanya akan memainkan peran krusial dalam menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures