
Bestprofit (4/2) – Harga emas menunjukkan pergerakan yang relatif stabil pada awal perdagangan Asia, setelah sebelumnya mencatat rebound kuat dari kejatuhan tajam pasca-menyentuh rekor tertinggi. Bullion bertahan di atas level US$4.920 per ons, menandai konsolidasi pasar setelah lonjakan lebih dari 6% pada sesi sebelumnya. Rebound ini terjadi seiring membaiknya sentimen risk-on global dan melemahnya dolar Amerika Serikat, dua faktor yang secara historis mendukung pergerakan harga emas.
Meski volatilitas masih terasa, pasar mulai menemukan pijakan baru setelah aksi jual ekstrem yang mengguncang logam mulia akhir pekan lalu. Investor kini berada dalam mode “menimbang ulang”, mencoba menentukan apakah reli emas masih memiliki tenaga lanjutan atau justru sedang memasuki fase koreksi yang lebih dalam.
Jarak Emas dari Rekor Masih Terbilang Jauh
Walaupun rebound terbilang impresif, posisi emas saat ini masih cukup jauh dari level puncaknya. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga emas tercatat sekitar 12% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Fakta ini menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi sebelumnya bukanlah pergerakan kecil, melainkan penyesuaian signifikan setelah reli agresif.
Namun, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, performa emas sepanjang tahun berjalan masih sangat solid. Hingga saat ini, harga emas telah naik hampir 15% secara year-to-date, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik di tengah ketidakpastian global. Ini memperkuat pandangan bahwa tren jangka menengah hingga panjang emas masih cenderung positif, meski jalannya tidak lagi mulus.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Reli Bulan Lalu: Kombinasi Spekulasi dan Safe Haven
Lonjakan harga emas yang terjadi bulan lalu tidak datang tanpa alasan. Reli tersebut dipacu oleh kombinasi momentum spekulatif, meningkatnya permintaan safe haven akibat tensi geopolitik global, serta kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral, terutama di negara-negara utama.
Di sisi spekulatif, posisi beli di pasar derivatif meningkat tajam, mencerminkan keyakinan bahwa emas akan terus menanjak. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik mendorong investor institusional dan ritel untuk kembali memarkir dana pada aset lindung nilai. Narasi mengenai potensi tekanan politik terhadap kebijakan moneter juga memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai yang “bebas dari risiko kebijakan”.
Koreksi Mendadak: Alarm bahwa Kenaikan Terlalu Cepat
Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Akhir pekan lalu, pasar emas mengalami koreksi keras setelah muncul peringatan bahwa kenaikan harga telah berlangsung terlalu cepat dan terlalu tinggi. Banyak pelaku pasar mulai menyadari bahwa reli tersebut tidak sepenuhnya ditopang oleh fundamental jangka pendek, melainkan oleh ekspektasi dan positioning yang terlalu padat.
Hasilnya, emas mencatat penurunan harian terburuk sejak 2013, sebuah sinyal kuat bahwa pasar sedang melakukan reset. Aksi ambil untung besar-besaran (profit taking) mempercepat tekanan jual, sementara likuidasi posisi spekulatif memperparah volatilitas. Momen ini menjadi pengingat bahwa bahkan aset safe haven sekalipun tidak kebal terhadap koreksi tajam.
Pergerakan Pagi Ini: Emas Melemah Tipis, Logam Lain Ikut Terkoreksi
Pada perdagangan pagi ini, harga emas tercatat turun tipis sekitar 0,4% ke US$4.929,48 per ons pada pukul 07.10 waktu Singapura. Pelemahan ini relatif moderat dan lebih mencerminkan fase konsolidasi ketimbang pembalikan tren.
Logam mulia lain menunjukkan tekanan yang lebih jelas. Perak turun sekitar 1,3% ke US$84,09 per ons, sementara platinum dan paladium juga mengalami koreksi. Pergerakan serempak ini mengindikasikan bahwa pasar logam masih berada dalam fase penyesuaian risiko, dengan investor cenderung lebih berhati-hati setelah gejolak tajam sebelumnya.
Peran Dolar AS dalam Menahan Tekanan Emas
Salah satu faktor penyeimbang penting bagi emas adalah pergerakan dolar AS. Bloomberg Dollar Spot Index menutup sesi sebelumnya turun sekitar 0,3%, memberikan ruang bagi emas untuk tetap bertahan di level tinggi meski volatilitas belum sepenuhnya mereda.
Secara historis, hubungan terbalik antara dolar AS dan emas menjadi penopang utama bagi logam mulia. Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung meningkat. Dalam konteks saat ini, melemahnya dolar membantu meredam tekanan jual yang seharusnya lebih besar pasca-koreksi tajam.
Sentimen Risk-On Mulai Kembali, Tapi Hati-Hati
Membaiknya sentimen risk-on global turut berkontribusi pada stabilisasi harga emas. Pasar saham yang mulai pulih dan berkurangnya kepanikan ekstrem mendorong investor untuk kembali melakukan rebalancing portofolio secara lebih rasional.
Namun demikian, kehati-hatian masih mendominasi. Investor kini lebih selektif dan tidak lagi mengejar harga secara agresif seperti beberapa minggu lalu. Fokus pasar mulai bergeser ke pertanyaan besar: apakah faktor-faktor fundamental yang mendorong reli emas masih cukup kuat untuk menopang kenaikan lanjutan, atau justru pasar akan bergerak sideways dalam waktu dekat.
Prospek Ke Depan: Volatilitas Masih Membayangi
Ke depan, volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pergerakan emas. Pasar masih mencerna dampak dari koreksi tajam sekaligus menunggu katalis baru yang dapat memberikan arah lebih jelas. Data ekonomi AS, arah kebijakan moneter global, serta perkembangan geopolitik akan menjadi penentu utama.
Meski demikian, selama emas mampu bertahan di atas level psikologis kunci dan dolar AS tidak kembali menguat tajam, logam mulia ini berpotensi mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai utama. Untuk saat ini, stabilisasi di awal perdagangan Asia menjadi sinyal bahwa pasar mulai menemukan keseimbangan baru—meski jalan ke depan masih penuh liku.
Jangan
lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam
informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan
baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures









