Tampilkan postingan dengan label Minyak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minyak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2026

Bestprofit | Minyak Turun, Emas Naik

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/04/compressed_Emas-Turun-Tipis-saat-Tenggat-Trump-soal-Perang-Ir-1.jpg

Bestprofit (8/4) – Harga emas global mengalami penguatan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pemerintah Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan. Kesepakatan ini bertujuan untuk memberikan ruang negosiasi dalam mengakhiri konflik yang sebelumnya mengguncang stabilitas pasar global.

Dalam pernyataan publiknya, Trump menegaskan bahwa penghentian sementara aksi militer tersebut terkait erat dengan syarat utama, yaitu pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kawasan ini selama konflik menjadi titik krusial karena perannya sebagai jalur distribusi energi global, khususnya minyak mentah.

Kabar ini langsung memicu respons positif di berbagai pasar keuangan, terutama pada aset-aset berisiko maupun aset lindung nilai seperti emas.

Lonjakan Harga Emas dan Pergeseran Arah Risiko

Emas batangan (bullion) tercatat naik hingga sekitar 3,1% dan sempat melampaui level US$4.850 per troy ounce. Kenaikan ini memperpanjang reli sebelumnya sebesar 1,2%, sekaligus mencerminkan perubahan cepat dalam sentimen risiko global.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar mulai menilai kemungkinan gangguan berkepanjangan akibat konflik menjadi lebih kecil. Namun demikian, ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Investor masih berhati-hati dalam menilai apakah gencatan senjata ini akan benar-benar berujung pada perdamaian permanen atau hanya jeda sementara.

Emas dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai aset safe haven, tetapi juga sebagai instrumen refleksi ekspektasi pasar terhadap stabilitas geopolitik.

Dampak Lintas Aset: Minyak, Dolar, dan Saham

Selain emas, kelas aset lain juga menunjukkan reaksi signifikan. Harga minyak mentah turun ke bawah US$100 per barel, mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Penurunan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan emas.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan. Karena emas dihargakan dalam dolar, pelemahan mata uang ini membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.

Pasar saham global juga mencatat lonjakan lebih dari 2%, menandakan munculnya kembali sentimen “risk-on”. Kondisi ini biasanya berlawanan dengan kenaikan emas, namun dalam situasi saat ini, keduanya justru bergerak naik bersamaan—menunjukkan kompleksitas dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Perilaku Emas yang Tidak Konvensional

Menariknya, selama konflik di Timur Tengah berlangsung, emas tidak sepenuhnya mengikuti pola klasik sebagai aset safe haven. Dalam beberapa periode, emas justru bergerak searah dengan pasar saham.

Fenomena ini terjadi karena sebagian investor terpaksa menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, seperti saham atau obligasi. Hal ini menciptakan tekanan jual pada emas meskipun kondisi geopolitik sebenarnya mendukung kenaikan harga.

Menurut analis dari Pepperstone Group Ltd, Ahmad Assiri, kenaikan emas di atas US$4.800 lebih mencerminkan proses “kalibrasi ulang risiko” daripada perubahan besar dalam rezim pasar. Artinya, pasar masih berada dalam fase penyesuaian terhadap kondisi baru, bukan sepenuhnya memasuki tren baru yang stabil.

Pengaruh Kebijakan Moneter dan Inflasi

Di luar faktor geopolitik, dinamika harga emas juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter. Konflik yang telah berlangsung selama enam pekan menyebabkan kenaikan harga energi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko inflasi global.

Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan ini menjadi faktor penekan bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Pasar obligasi saat ini memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga hingga akhir tahun. Ekspektasi ini meningkatkan biaya peluang memegang emas, sehingga membatasi potensi kenaikan harga lebih lanjut.

Tren Harga Sejak Awal Konflik

Meskipun mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir, harga emas sebenarnya masih turun hampir 10% sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Penurunan ini mencerminkan tekanan dari berbagai faktor, termasuk kebutuhan likuiditas investor dan ekspektasi suku bunga tinggi.

Pemulihan moderat yang terjadi belakangan ini lebih banyak didorong oleh harapan terhadap gencatan senjata serta kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Jika ekonomi global melambat, maka tekanan terhadap kebijakan moneter ketat bisa berkurang, yang pada akhirnya mendukung emas.

Sensitivitas terhadap Risiko Geopolitik

Salah satu karakter utama emas adalah sensitivitasnya yang tinggi terhadap perkembangan politik global. Dalam konteks konflik Iran dan Amerika Serikat, setiap perubahan kecil dapat memicu volatilitas yang signifikan.

Gencatan senjata saat ini memang memberikan ruang bernapas bagi pasar, namun sifatnya masih rapuh. Risiko tetap ada, terutama jika terjadi pelanggaran kesepakatan atau ketegangan kembali meningkat di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.

Jika jalur pelayaran tersebut kembali terganggu, dampaknya tidak hanya pada harga minyak tetapi juga pada seluruh sistem keuangan global—yang pada akhirnya dapat mendorong lonjakan baru pada harga emas.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lain juga menunjukkan penguatan. Perak naik sekitar 5,4% menjadi US$76,92 per troy ounce, sementara platinum dan paladium turut mencatat kenaikan.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa sentimen positif tidak hanya terbatas pada emas, tetapi juga meluas ke seluruh sektor logam mulia. Hal ini biasanya terjadi ketika investor melihat peluang pemulihan ekonomi sekaligus tetap mempertahankan perlindungan terhadap risiko.

Prospek ke Depan: Antara Harapan dan Ketidakpastian

Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama: perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Jika gencatan senjata berhasil berlanjut menjadi kesepakatan damai permanen, maka tekanan terhadap emas bisa meningkat karena berkurangnya permintaan safe haven.

Namun sebaliknya, jika konflik kembali memanas atau negosiasi gagal, maka emas berpotensi mengalami lonjakan tajam.

Di sisi lain, kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penentu jangka menengah hingga panjang. Selama suku bunga tetap tinggi, ruang kenaikan emas cenderung terbatas. Namun jika ada sinyal pelonggaran kebijakan, emas dapat kembali menjadi primadona.

Kesimpulan

Penguatan harga emas saat ini mencerminkan kompleksitas dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, dan kebijakan moneter. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memberikan harapan baru, tetapi juga menyisakan ketidakpastian.

Dalam situasi seperti ini, emas tetap menjadi aset penting bagi investor, baik sebagai lindung nilai maupun sebagai instrumen spekulatif. Namun, pergerakannya tidak lagi bisa dilihat secara sederhana—melainkan harus dipahami dalam konteks yang lebih luas dan dinamis.

Dengan kondisi yang terus berkembang, investor perlu tetap waspada dan responsif terhadap setiap perubahan, karena pasar saat ini bergerak bukan hanya berdasarkan data, tetapi juga persepsi dan ekspektasi yang berubah dengan cepat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Minggu, 01 Februari 2026

Bestprofit | Minyak Berbalik Turun Usai Reli 16%

https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Minyak-Melemah-Risiko-Gangguan-Kazakhstan-Mereda-1.jpg

Bestprofit (2/2) – Harga minyak mentah global jatuh tajam setelah sebelumnya mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Pasar yang dalam beberapa pekan terakhir “ngegas” karena ketegangan geopolitik kini mendadak mengerem. Pelaku pasar mulai menilai bahwa risiko gangguan pasokan yang sempat dikhawatirkan ternyata tidak terjadi dalam waktu dekat, sehingga premi risiko yang telanjur menempel di harga mulai dilepas.

Minyak Brent bergerak di kisaran US$68 per barel setelah melonjak sekitar 16% sepanjang bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Koreksi ini menandai perubahan sentimen yang cukup cepat: dari pasar yang digerakkan ketakutan geopolitik, kembali ke mode perhitungan ulang fundamental dan positioning.

Dari Euforia Geopolitik ke Mode Rem Mendadak

Reli minyak sebelumnya sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Ancaman retorik, pergerakan militer, dan ketegangan diplomatik mendorong pasar mempricing skenario terburuk—yakni terganggunya pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia.

Namun, ketika skenario ekstrem tersebut tak kunjung terwujud, pasar mulai kehabisan alasan untuk mempertahankan harga tinggi. Alhasil, koreksi tajam pun terjadi. Pergerakan ini mencerminkan karakter pasar minyak yang sangat reaktif terhadap headline geopolitik, tetapi juga cepat berbalik arah ketika realisasi tidak sejalan dengan ketakutan awal.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Nada Lebih Lunak Trump Redakan Premi Risiko

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen datang dari pernyataan Donald Trump terkait Timur Tengah. Trump mengecilkan ancaman perang regional yang sebelumnya disuarakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga kembali menegaskan harapannya bahwa kesepakatan dengan Iran masih memungkinkan untuk dicapai.

Nada yang lebih “soft” ini langsung ditangkap pasar sebagai sinyal de-eskalasi. Investor yang sebelumnya membeli minyak sebagai lindung nilai terhadap risiko konflik mulai melepas posisi. Premi risiko geopolitik yang sempat membengkak perlahan menguap, menekan harga kembali ke level yang lebih mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan aktual.

Reset Positioning, Bukan Perubahan Fundamental

Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan harga minyak kali ini lebih menyerupai reset positioning ketimbang perubahan fundamental yang signifikan. Logikanya cukup sederhana: tanpa kejutan pasokan baru, harga minyak hanya mengoreksi premi risiko yang sebelumnya dipasang terlalu agresif.

Banyak trader dan fund manager sebelumnya mengambil posisi long untuk mengantisipasi skenario gangguan pasokan. Ketika skenario itu tak terjadi, posisi-posisi tersebut menjadi rentan untuk dibalik. Penurunan harga yang terjadi pun lebih mencerminkan arus keluar posisi spekulatif ketimbang perubahan drastis dalam keseimbangan pasar fisik.

Diplomasi Eropa Timur Masih Jadi Variabel Penting

Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Eropa Timur. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebutkan bahwa pertemuan trilateral berikutnya antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari di Abu Dhabi.

Meski demikian, pasar belum melihat adanya terobosan signifikan. Perang yang kini mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor struktural penting, terutama karena sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia masih membayangi. Selama sanksi tersebut belum sepenuhnya dicabut, pasokan global tetap berada dalam kondisi “setengah normal”—cukup untuk mencegah lonjakan ekstrem, tetapi tidak cukup longgar untuk menghilangkan sensitivitas harga.

Dari Ketakutan Gangguan Pasokan ke Cerita Surplus Global

Menariknya, reli minyak sebelumnya terjadi di tengah narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pasar takut pasokan terganggu akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, dunia juga sedang menghadapi potensi surplus pasokan global, terutama dari produksi non-OPEC yang masih kuat.

Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana terus menambah kapasitas produksi, sementara pertumbuhan permintaan global menunjukkan tanda-tanda melambat, khususnya dari China. Ketika ketegangan geopolitik mereda, perhatian pasar otomatis kembali ke cerita lama ini: apakah dunia sebenarnya kelebihan minyak?

Sikap OPEC+ Tetap Jadi Penopang, Tapi Bukan Pendorong

Di luar faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ yang mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret, sebagai bagian terakhir dari kebijakan “freeze” tiga bulan. Meski harga sempat naik tajam, kartel memilih tidak mengubah strategi dalam waktu dekat.

Keputusan ini memberikan stabilitas, tetapi tidak cukup kuat untuk menopang harga di tengah arus jual spekulatif. Bagi trader, sikap OPEC+ lebih berfungsi sebagai “lantai” harga jangka menengah, bukan katalis untuk reli lanjutan.

Efek Domino dari Koreksi Aset Lain

Koreksi tajam di pasar logam mulia—terutama emas dan perak—juga ikut memengaruhi sentimen di pasar energi. Penurunan tajam tersebut memicu mode recalibrate risk di berbagai kelas aset. Investor mulai menurunkan eksposur terhadap posisi yang sebelumnya terlalu padat dan sensitif terhadap volatilitas.

Dalam konteks ini, minyak tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari gelombang penyesuaian risiko yang lebih luas, di mana pelaku pasar berusaha menyeimbangkan kembali portofolio setelah periode pergerakan ekstrem.

Pasar Kembali ke Mode Hitung-Hitungan

Pada pukul 08:07 waktu Singapura, harga Brent tercatat turun sekitar 2,4% ke US$67,64 per barel, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54 per barel. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai membuang premi risiko dan kembali ke mode perhitungan rasional.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua hal utama: apakah ketegangan geopolitik kembali memanas, dan bagaimana realisasi keseimbangan pasokan-permintaan global. Tanpa kejutan baru, pasar cenderung bergerak lebih datar dengan volatilitas yang tetap tinggi, tetapi tanpa bias naik yang sekuat bulan lalu.

Kesimpulan: Dari Emosi ke Realitas Pasar

Koreksi harga minyak saat ini menegaskan satu hal penting: reli berbasis ketakutan jarang bertahan lama tanpa konfirmasi nyata. Ketika emosi pasar mereda, realitas fundamental kembali mengambil alih. Dalam kondisi seperti ini, harga minyak tidak lagi digerakkan oleh headline semata, melainkan oleh perhitungan ulang risiko, suplai, dan permintaan global.

Bagi pelaku pasar, fase ini menuntut disiplin dan kehati-hatian. Volatilitas masih akan menjadi ciri utama, tetapi arah pergerakan kemungkinan lebih ditentukan oleh data dan kebijakan nyata ketimbang retorika geopolitik.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Kamis, 28 September 2023

Best Profit | Memahami Penurunan Harga Minyak: Tinjauan Mendalam tentang Faktor-faktor yang Mendorongnya

Best Profit (29/9) – Di awal pagi Jumat, harga minyak di Asia mengalami penurunan setelah reli baru-baru ini yang dipicu oleh mengambil keuntungan dan ekspektasi peningkatan pasokan dari Rusia dan Arab Saudi. Penurunan ini membuat banyak orang bertanya-tanya tentang jaringan faktor yang kompleks di pasar minyak global. Dalam artikel ini, kami akan membahas situasi saat ini dan menjelajahi apa yang mendorong penurunan harga minyak.

Penurunan Harga Awal

Pagi Jumat, 29 September 2023, harga minyak di Asia mengalami penurunan. Kontrak berjangka Brent untuk November, yang berakhir pada Jumat itu juga, turun sebesar 21 sen, diperdagangkan pada $95,17 per barel pada pukul 00:55 GMT. Kontrak berjangka Brent untuk Desember ikut merosot, kehilangan 10 sen, dan diperdagangkan pada $93,00 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat melemah sebesar 8 sen, diperdagangkan pada $91,63 per barel.

Baca Juga : Bagaimana Dampak Fed terhadap Ekonomi? Bergantung Pada Hal Ini

Baca Juga : Pelemahan Dolar AS: Apa Artinya Bagi Pasar Global

Penurunan ini mencatat penurunan sebesar 1,0 persen dari harga hari sebelumnya. Para pedagang cepat dalam memanfaatkan lonjakan harga baru-baru ini, yang telah melihat harga minyak mencapai level tertinggi dalam satu dekade. Selain itu, kekhawatiran tentang dampak suku bunga tinggi terhadap permintaan minyak juga memainkan peran dalam penurunan ini. National Australia Bank mengomentari situasi ini, menyatakan, “Rally harga minyak baru-baru ini berhenti semalam.”

Ekspektasi Pasokan dan Dinamika OPEC+

Salah satu faktor utama di balik penurunan harga ini adalah ekspektasi peningkatan pasokan dari Rusia dan Arab Saudi. Dua negara produsen minyak besar ini diperkirakan akan melebihi proyeksi permintaan positif selama liburan Pekan Emas China. Rusia baru-baru ini mengendurkan larangan terpisahnya terhadap ekspor bahan bakar, yang awalnya diberlakukan untuk menstabilkan pasar domestik.

Tidak kalah penting, Turki, Brasil, Maroko, Tunisia, dan Arab Saudi termasuk dalam tujuan utama untuk minyak diesel Rusia tahun ini, seperti yang dilaporkan oleh JPMorgan. Pembatasan ekspor yang berkepanjangan akan memiliki dampak negatif pada hubungan perusahaan minyak Rusia dengan pelanggan baru yang telah mereka bangun selama satu setengah tahun terakhir.

Rusia belum membahas kemungkinan peningkatan pasokan minyak mentah untuk mengkompensasi larangan ekspor bahan bakar Moskow dalam kerangka kerja OPEC+. Situasinya masih berubah-ubah, dan para pemangku kepentingan pasar dengan cermat memantau perkembangan dalam hal ini.

Ini adalah bagian dari perjanjian OPEC+ yang melibatkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya. best profit

Dampak Data Ekonomi dan Liburan Tiongkok

Data makroekonomi terbaru, yang dipadukan dengan liburan Pekan Emas selama seminggu di Tiongkok yang dimulai pada Jumat, telah memberikan dukungan terhadap permintaan minyak global. Ekonomi AS telah menjaga laju pertumbuhannya yang cukup solid di kuartal kedua, dan aktivitas tampaknya meningkat di kuartal saat ini, menurut data yang dirilis pada Kamis, 28 September 2023.

Selain itu, aktivitas pabrik di Tiongkok diperkirakan akan tetap stabil pada bulan September, menurut jajak pendapat Reuters. Hal ini menambahkan kepada serangkaian indikator yang menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia ini telah mulai stabil. Data resmi akan dirilis pada Sabtu, 30 September 2023.

ANZ Research mencatat, “Peningkatan perjalanan internasional selama liburan Pekan Emas telah meningkatkan permintaan minyak di Tiongkok.” Hal ini menyoroti keterkaitan antara berbagai peristiwa ekonomi global dan pengaruhnya terhadap pasar minyak.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Ketika kita melihat ke depan, jelas bahwa pasar minyak adalah ekosistem yang kompleks yang dibentuk oleh berbagai faktor, termasuk dinamika pasokan, data makroekonomi, dan perkembangan geopolitik. Pertemuan OPEC mendatang pada tanggal 4 Oktober akan menjadi bagian penting dari teka-teki ini, karena dapat memberikan gambaran tentang penyesuaian potensial terhadap pemangkasan pasokan sukarela.

Para investor dan ahli industri akan tetap memantau perkembangan situasi ini, karena memiliki implikasi tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada ekonomi global secara keseluruhan. Sementara itu, para peserta pasar akan tetap waspada, siap untuk beradaptasi dengan lanskap pasar minyak yang selalu berubah. best profit

Selasa, 19 September 2023

Best Profit | Dampak Pengambilan Keuntungan terhadap Harga Minyak setelah Mencapai Puncak 10 Bulan


Best Profit (20/9) – Dalam dunia pasar minyak yang selalu berfluktuasi, perjalanan baru-baru ini dalam harga minyak telah sangat mengesankan. Setelah mencapai puncak 10 bulan, harga minyak mengalami penurunan tajam, membuat banyak investor dan analis bingung untuk memahami dinamika yang terjadi.

Kenaikan dan Penurunan Tiba-tiba

Seperti yang dilaporkan pada Rabu, 20 September 2023, pukul 05:57 WIB, kontrak berjangka minyak mengalami penurunan yang mencolok. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November ditutup pada harga $94,34 per barel, mengalami penurunan sebesar 9 sen. Penurunan ini datang setelah minyak mencapai puncak selama 10 bulan, sebuah pencapaian yang mengesankan mengingat lanskap energi global yang penuh gejolak.

Lalu, apa yang mendorong penurunan tiba-tiba ini dalam harga minyak? Semuanya berkaitan dengan pengambilan keuntungan. Para investor memutuskan bahwa saatnya untuk merealisasikan keuntungan mereka setelah melihat reli selama tiga sesi. Reli ini dipicu oleh pemotongan produksi yang berkepanjangan dari Arab Saudi dan Rusia, anggota aliansi OPEC+. best profit

Baca Juga : Peningkatan Harga Emas Global Saat Menantikan Keputusan Suku Bunga Fed

Baca Juga : Apakah Emas Akan Merosot Bebas atau Meningkat Harga?

Memahami Faktor-faktor yang Berperan

Meskipun menggoda untuk berpikir bahwa penurunan ini mengancam harga minyak, penting untuk memahami dinamika yang mendasarinya. Patokan global, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November memang mencapai level tertinggi pada $95,96 per barel, suatu level yang tidak pernah tercapai sejak November. Lonjakan ini mendorong UBS, sebuah bank investasi terkemuka, untuk mulai mengambil keuntungan dari kepemilikan mereka.

Namun, para ahli di dalam bank tersebut meyakini bahwa kontrak berjangka minyak Brent akan diperdagangkan dalam kisaran $90 hingga $100 per barel dalam beberapa bulan mendatang, dengan target akhir tahun sebesar $95 per barel. Proyeksi ini mengimplikasikan bahwa, meskipun ada pengambilan keuntungan, pasar masih relatif optimis.

Menambah kekhawatiran pasokan, anggota OPEC+ seperti Arab Saudi dan Rusia baru-baru ini memperpanjang pemotongan pasokan gabungan mereka sebesar 1,3 juta barel per hari hingga akhir tahun. best profit

Variabel-variabel yang Tidak Terduga

Pasar minyak tidak asing dengan ketidakpastian, dan beberapa faktor berkontribusi pada volatilitasnya. Rusia, misalnya, sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan bea ekspor sebesar $250 per metrik ton pada semua produk minyak, kenaikan yang signifikan dari tarif saat ini. Langkah ini dijadwalkan akan berlaku mulai 1 Oktober 2023, hingga Juni 2024, dengan tujuan untuk mengatasi kekurangan bahan bakar.

Selain itu, produksi minyak serpih AS dari wilayah penghasil terbesar sedang mengalami penurunan, mencapai 9,393 juta barel per hari pada bulan Oktober, level terendah sejak Mei 2023. Ini merupakan penurunan bulanan ketiga berturut-turut, yang menimbulkan kekhawatiran terkait produksi minyak dalam negeri.

Para analis, di sisi lain, memperkirakan penurunan yang lebih moderat sekitar 2,7 juta barel. Data persediaan pemerintah AS akan dirilis pada hari Rabu, waktu setempat. best profit

Ada juga ketidakpastian terkait permintaan yang dapat mempengaruhi pasar. Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, membela pemotongan pasokan oleh OPEC+, menekankan perlunya regulasi yang ringan untuk mengurangi volatilitas. Dia juga mengungkapkan keprihatinan terkait permintaan dari China, pertumbuhan di Eropa, dan langkah-langkah bank sentral dalam mengatasi inflasi.

Implikasi pada Pasar dan Sorotan Masa Depan

Pada Selasa, 19 September 2023, indeks-indeks utama di Wall Street mengalami penurunan, dengan Nasdaq dan S&P 500 mencapai titik terendah dalam lebih dari tiga minggu. Pemicu penurunan ini adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, yang terjadi menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve AS. best profit

Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran saat ini, yaitu 5,25% hingga 5,50%, pada hari Rabu, karena inflasi inti mendekati target The Fed sebesar 2,0%.

Sebagai kesimpulan, pasar minyak tetap menjadi arena yang dinamis, dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik, ekonomi, dan lingkungan. best profit

Rabu, 13 September 2023

Best Profit | Persediaan Minyak Mentah Meningkat di AS, Data Minyak Bumi Beragam


Best Profit (14/9) – Kilang minyak mentah AS telah beroperasi dengan penuh dalam beberapa waktu terakhir, mengakibatkan peningkatan yang signifikan dalam persediaan minyak mentah. Menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu, 13 September 2023, masukan kilang minyak mentah AS mencapai rata-rata 16,8 juta barel per hari selama pekan yang berakhir pada 8 September. Angka ini menunjukkan peningkatan yang besar sebesar 177.000 barel per hari dibandingkan dengan rata-rata pekan sebelumnya.

Kondisi Kilang Minyak

Laporan EIA juga mengungkapkan bahwa kilang minyak AS beroperasi pada tingkat kapasitas operasional sebesar 93,7% selama pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kinerja yang kuat oleh kilang minyak, yang berkontribusi pada peningkatan pemrosesan minyak mentah.

Baca Juga : Pemilik Emas Persiapkan Diri Anda! AS Akan Mengumumkan Kabar Penting

Baca Juga : Lonjakan Harga Emas Didorong oleh Pelemahan Dolar AS

Penurunan Produksi Bensin dan Sulingan

Meskipun terjadi lonjakan dalam masukan minyak mentah, terdapat penurunan yang signifikan dalam produksi bensin dan sulingan selama periode yang sama. Produksi bensin rata-rata mencapai 9,2 juta barel per hari, sementara produksi sulingan berada pada angka 5,0 juta barel per hari. best profit

Persediaan Minyak Mentah

Salah satu informasi penting dari laporan ini adalah peningkatan dalam persediaan minyak mentah komersial di Amerika Serikat. Diluar Cadangan Minyak Strategis, persediaan minyak mentah meningkat sebesar 4,0 juta barel dibandingkan dengan pekan sebelumnya, mencapai total sebesar 420,6 juta barel. Meskipun terjadi peningkatan ini, persediaan tetap berada sekitar 2,0% di bawah rata-rata lima tahun untuk periode saat ini.

Peningkatan Persediaan Bensin dan Sulingan

Persediaan bensin mengalami peningkatan yang signifikan, naik sebanyak 5,6 juta barel dari pekan sebelumnya, dan juga tetap sekitar 2,0% di bawah rata-rata lima tahun untuk periode ini. Selain itu, persediaan bensin jadi dan komponen pencampur juga mengalami peningkatan selama pekan tersebut. best profit

Pasokan Produk Bensin Motor dan Bahan Bakar Sulingan

Temuan-temuan ini memberikan wawasan berharga tentang dinamika industri minyak bumi AS, dengan fokus pada produksi minyak mentah, pengolahan, dan tingkat persediaan. Data ini menunjukkan bahwa sementara masukan minyak mentah dan kapasitas pengolahan sedang meningkat, produksi bensin dan sulingan mengalami penurunan. Peningkatan persediaan minyak mentah, terutama minyak mentah komersial, patut diperhatikan dan dapat memiliki dampak pada pasar minyak global.

Sebagai kesimpulan, laporan terbaru dari Badan Informasi Energi AS menyoroti peningkatan dalam persediaan minyak mentah dan operasi kuat kilang minyak. best profit

Kamis, 24 Agustus 2023

Best Profit | Harga Minyak Terkendala oleh Penguatan Dolar AS

Best Profit | Dalam dunia komoditas yang dinamis, harga minyak mentah saat ini terpengaruh oleh penguatan dolar AS yang kembali menguat. Para pedagang dengan cermat memantau sinyal dari Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang kebijakan moneter AS. Gabungan faktor-faktor ini menciptakan rasa ketidakpastian dalam pasar minyak dunia.

Penguasaan Dolar Terhadap Harga Minyak

Data terbaru dari Investing.com, tanggal Jumat, 25 Agustus 2023, menunjukkan bahwa meskipun harga minyak tampak relatif stabil dalam sesi perdagangan sebelumnya, mereka terus berada dalam zona merah untuk minggu kedua berturut-turut. Penurunan ini utamanya disebabkan oleh kekhawatiran atas perlambatan permintaan China dan peningkatan pasokan dari Amerika Serikat. Kontrak berjangka minyak Brent berhasil bertahan pada $83,27 per barel, sementara kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) mengalami sedikit penurunan menjadi $79 per barel. Dua kontrak minyak tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan antara 1,9 persen hingga tiga persen untuk minggu ini.

Baca Juga : Best Profit | Momentum Kedatangan Pidato Fed: Bagaimana Nasib Emas?

Pidato Powell dan Lonjakan Dolar

Semua mata tertuju pada pidato yang akan datang dari Jerome Powell, karena hal ini membuat dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam 2,5 bulan. Penguatan dolar ini memberikan tekanan berat pada pasar minyak. Powell diperkirakan akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai rencana bank sentral terkait suku bunga AS untuk sisa tahun ini. Kekhawatiran atas potensi sinyal hawkish dari Ketua Federal Reserve mendorong lebih banyak posisi mendukung dolar, hal ini mencolok mengingat inflasi AS yang stagnan dan pasar tenaga kerja yang kokoh. Para analis memberi peringatan bahwa Powell mungkin akan menguraikan jalur menuju suku bunga yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Penguatan dolar AS mencapai puncaknya pada hari Jumat, menandai posisi terkuatnya sejak awal Juni. Kekuatan dolar ini membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli internasional. best profit

Baca Juga : Aktivitas Bisnis AS yang Belum Stabil dan Pelemahan USD

Prospek Penurunan Harga Minyak

Prospek penurunan harga minyak semakin menjadi perhatian utama. Meskipun terjadi peningkatan yang cukup dalam perdagangan hari Kamis, harga minyak masih menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut. Reli yang teramati selama dua bulan terakhir tampaknya mulai mereda. Pasar sedang menghadapi kekhawatiran yang semakin besar terkait perlambatan permintaan di China, menyusul pemangkasan suku bunga yang lebih kecil dari perkiraan oleh Bank Sentral China awal minggu ini. Tanda-tanda melemahnya permintaan bahan bakar di AS juga turut menekan harga minyak. Data persediaan mengungkapkan peningkatan yang tidak terduga dan signifikan dalam stok bensin dan produk sulingan. Di sisi pasokan, produksi dan ekspor AS telah melonjak mendekati level sebelum pandemi COVID-19 dalam satu minggu terakhir, menunjukkan pasar tidak seketat yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun demikian, harga minyak mentah tetap diperdagangkan sedikit lebih tinggi sepanjang tahun ini, mengikuti pemangkasan pasokan yang signifikan oleh Arab Saudi dan Rusia. best profit

Siap Menghadapi Perjalanan Berliku Minyak

Sebagai penutup, dalam dunia minyak mentah saat ini, pergerakan harga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang kembali menguat. Para pedagang dan investor sama-sama harus bersiap menghadapi fluktuasi potensial karena pidato Jerome Powell semakin mendekat. Situasi saat ini menghadirkan tantangan dan peluang bagi mereka yang terlibat dalam industri minyak. Saat pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS, nasib harga minyak mentah berada dalam keseimbangan yang rapuh. Saatnya untuk berwaspada dan merencanakan strategi dalam lanskap komoditas global yang selalu berubah. best profit

Minggu, 20 Agustus 2023

Best Profit | Harga Minyak Mentah Menguat 1%, Namun Khawatir Ekonomi China Menyurutkan Minat Dunia pada Minyak

Best Profit (21/8) – Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan lebih dari 1% dalam perdagangan terakhir pekan ini. Namun, mereka tidak mampu menyelamatkan pekan yang berakhir di zona merah.

Pada Jumat, 18 Agustus 2023, minyak mentah WTI naik sebesar 1,07% menjadi $81,25 per barel, dan minyak brent juga mengalami peningkatan sebesar 0,81%, ditutup pada $84,80 per barel.

Meskipun ada semangat pada akhir pekan, kedua patokan harga minyak global ini mengalami penurunan mingguan sebesar 2,3%.

Pemicu kenaikan harga minyak adalah data yang menunjukkan bahwa jumlah rig minyak dan gas alam AS, indikator awal produksi masa depan, telah turun selama enam minggu berturut-turut. Penurunan produksi AS dapat memperburuk ketatnya pasokan yang diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun ini.

Kekhawatiran ini, yang dipicu oleh penurunan produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, telah membantu harga minyak naik selama tujuh minggu berturut-turut sejak Juni. Minyak brent telah naik sekitar 18%, sedangkan WTI melonjak 20% selama tujuh minggu yang berakhir pada 11 Agustus. best profit

Namun, pekan ini, harga minyak mengalami penurunan sebesar 2% dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh krisis properti yang memburuk di China, yang meningkatkan kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi yang lamban di negara tersebut dan mengurangi minat investor terhadap risiko di pasar global.

“Investor tetap khawatir tentang ketegangan antara pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan pasokan global yang masih ketat,” kata Rob Haworth, Manajer Portofolio Senior di US Bank Asset Management. Dia menambahkan, “Harga kemungkinan akan tetap berada dalam kisaran saat ini,” sambil mencatat bahwa permintaan dipertanyakan karena data lemah dari China.

Ada juga kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa Federal Reserve AS belum selesai menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan, pada gilirannya, mengurangi permintaan minyak secara keseluruhan. best profit

Patokan harga minyak semakin tertekan oleh melemahnya permintaan musiman menjelang musim gugur, kata Jay Hatfield, CEO Manajemen Modal Infrastruktur.

Dengan kekhawatiran tentang dinamika pasokan dan permintaan, pasar tampaknya akan tetap dalam kisaran perdagangan yang sempit untuk masa mendatang.

HARGA MINYAK MENTAH MENUNJUKKAN TANDA KEHIDUPAN

Saat kita menutup pekan perdagangan ini, pasar minyak mentah global telah menyaksikan kenaikan yang cukup signifikan, lebih dari 1%. Namun, jangan terburu-buru merayakannya. Kenaikan ini mungkin hanya bersifat sementara, mengingat kekhawatiran yang melingkupi ekonomi China yang sedang berjuang. best profit

PEKAN YANG PENUH DINAMIKA BAGI MINYAK

Pekan ini dimulai dengan optimisme, didorong oleh penurunan terus-menerus dalam jumlah rig minyak dan gas alam di Amerika Serikat. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kekhawatiran tentang krisis properti di China dan potensi dampaknya pada permintaan minyak global.

APA YANG MENANTI DI DEPAN?

Para investor dengan cemas mengamati ketegangan antara pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan pasokan minyak global yang terus terjaga. Pertanyaan belum terjawab mengenai kenaikan suku bunga di Amerika Serikat semakin menambah ketidakpastian.

Baca Juga : Harga Emas Dunia Menyentuh Terendah 5 Bulan dalam Pemandangan Ekonomi yang Berubah

Selasa, 05 Oktober 2021

Best Profit | Harga Minyak Dunia Melonjak ke Posisi Tertinggi dalam 7 Tahun Gara-gara OPEC

 


Best Profit (6/10) – Harga minyak mencapai level tertinggi sejak 2014 usai pejabat dari OPEC, Rusia dan produsen minyak lainnya memutuskan untuk tetap dengan kesepakatan mereka sebelumnya secara bertahap menambahkan pasokan minyak ke pasar.

Keputusan tersebut muncul meskipun permintaan energi meningkat karena bisnis di seluruh dunia kembali beroperasi.

Melansir laman nytimes.com, harga minyak West Texas Intermediate, melonjak menjadi sekitar USD 78 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak akhir 2014.

Sementara harga minyak mentah Brent, patokan internasional, naik hampir 3 persen menjadi USD 81,56 per barel. Harga minyak naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun. best profit

Sebanyak 23 negara, yang dikenal sebagai OPEC Plus, mengatakan bahwa mereka akan meningkatkan produksi 400.000 barel per hari pada November, kurang dari 0,5 persen dari permintaan dunia, di bawah kesepakatan yang dicapai pada Juli.

Kelompok itu mengabaikan tekanan politik dan komersial untuk meningkatkan produksi minyak guna meredakan pengetatan pasar.

“Ini akan membuat harga minyak bertahan di atas USD 80 per barel untuk jangka waktu tertentu atau mendorong lebih tinggi secara tajam bagi Organisasi Negara Pengekspor Minyak untuk mempertimbangkan untuk mengubah rencananya,” kata Richard Bronze, Kepala Geopolitik di Energy Aspects dalam risetnya. best profit

Sejauh ini, kata para analis, kenaikan harga minyak baru-baru ini belum cukup untuk membuat OPEC Plus keluar dari jalurnya pada bulan Juli. Selain itu, harga pada level ini mungkin merupakan kejutan yang menyenangkan bagi produsen minyak.

“Ada badai di sekitar, tetapi mereka tidak ingin mengguncang perahu,” kata Bhushan Bahree, direktur senior di IHS Markit, sebuah perusahaan riset. best profit

OPEC Plus tidak banyak menjelaskan alasannya. Kelompok itu mengatakan “bertindak mengingat fundamental pasar minyak saat ini.”

Analis mengatakan kelompok itu lebih berhati-hati dalam pandangannya daripada beberapa pengamat industri yang melihat permintaan minyak jauh melampaui pasokan di bulan-bulan mendatang.

Konsumsi minyak telah pulih dengan kuat setelah jatuh 9 persen tahun lalu, tetapi pandemi tetap menjadi perhatian di negara-negara konsumen minyak utama, termasuk Amerika Serikat. best profit

Sumber : Liputan6

Senin, 23 Agustus 2021

Best Profit | Minyak Naik Kuat Karena Profil Pasar yang “Risk-On”

 


Best Profit (24/8) - Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex, naik ke $65.63, pemulihan yang mantap dari kerendahan selama tiga bulan, menghentikan kerugian sepanjang minggu yang lalu.

Kembali naiknya harga minyak mentah WTI secara solid terutama disebabkan oleh kondisi yang sudah oversold dan juga melemahnya dollar AS secara luas ditengah profil pasar yang “risk-on”.

Memasuki minggu yang baru, ada sentimen yang benar-benar berbeda. Pasar bersemangat dengan prospek bahwa Federal Reserve akan menunda melakukan “tapering” dari skema pembelian obligasi, berkebalikan dengan suramnya sentimen minggu lalu. Namun, alasan berspekulasi bahwa the Fed akan menahan diri dari memperlambat pencetakan uang bukanlah sesuatu yang positip yaitu cepatnya penyebaran varian covid Delta. best profit

Permintaan akan assets safe-haven termasuk dollar AS mereda, sementara harga saham mengalami kenaikan, dengan memburuknya situasi di AS karena penyebaran varian Delta bisa memaksa the Fed tetap tidak mengubah kebijakan moneter yang ultra longgar.

Pasar saham global memulai minggu yang baru dengan pijakan yang tepat. Kembalinya minat terhadap resiko mengakibatkan minyak yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi ditawar beli, sementara daya tarik safe-haven dollar AS memudar.

Indeks dollar AS turun hampir 0.30% sebegitu jauh, membuat minyak mentah WTI yang berdenominasi USD menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri. best profit

Kedepannya masih harus dilihat apakah minyak AS bisa mempertahankan momentum pemulihan, ditengah mengintipnya resiko dari penyebaran Covid dan implikasinya bagi prospek permintaan kedepan.

“Support” terdekat menunggu di $65.14 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $64.76 dan kemudian $64.01. “Resistance” yang terdekat menunggu di $63.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $64.67 dan kemudian $65.68. best profit

Sumber : Vibiznews

Kamis, 12 Agustus 2021

Best Profit | Harga Minyak Mentah Dunia Turun, Jadi Berapa?

 


Best Profit (13/8) - Harga minyak mentah berjangka sedikit turun, dipicu kekhawatiran para pedagang yang terus menilai kekhawatiran permintaan susut imbas penyebaran cepat varian delta virus corona.

Melansir laman spglobal.com, Jumat (13/8/2021), harga minyak mentah pada September di NYMEX WTI turun 16 sen menjadi USD 69,09 per barel. Sementara harga minyak Brent ICE menetap di posisi USD 71,31 per barel, turun 13 sen.

Dalam produk olahan, RBOB bulan depan NYMEX turun 2,68 sen menjadi USD 2.2754 per galon dan ULSD menetap 19 poin lebih rendah pada posisi USD 2.1039 per galon.

Penyebaran varian delta telah menarik minyak mentah NYMEX di bawah level hampir USD 74 per barel yang terlihat pada akhir Juli. best profit

Tetapi harga minyak mentah dunia sejauh ini mengalami kesulitan mendorong di bawah USD 66 per barel karena masih ada beberapa optimisme bahwa distribusi vaksin akan berhasil mencegah penguncian yang meluas.

Badan Energi Internasional 12 Agustus menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak pada tahun ini menjadi 5,3 juta dari 5,4 juta barel per hari.

Namun lembaga ini memangkas perkiraan permintaan semester kedua 2021 sebesar 600.000 barel per hari menjadi 98,15 juta.

IEA menunjukkan penurunan 120.000 barel per hari pada permintaan Juli karena kebangkitan virus corona di China, Indonesia, dan tempat lain di Asia. best profit

Tetapi OPEC mengatakan jika mereka mempertahankan perkiraan permintaan global untuk 2021 dan 2022 tidak berubah.

Dan bahwa permintaan minyak harus tetap lebih tinggi daripada pasokan selama beberapa bulan mendatang.

"Belum jelas apakah penyebaran varian delta akan lebih berdampak pada permintaan," ujar Carsten Fitsch, Analis di Commerzbank, mengatakan dalam catatan 12 Agustus.

Sementara permintaan bensin tersirat menurun di AS. Permintaan di beberapa bagian Eropa, termasuk Mediterania, tetap menguat karena musim liburan berlanjut.

Harga minyak mungkin terus melihat-lihat dalam waktu dekat di tengah fundamental yang beragam tetapi, lebih jauh, pandangannya lebih menguntungkan.

"Agak sulit untuk memprediksi arah jangka pendek minyak, karena kelompok dapat berubah arah setiap saat. Melihat minyak dalam jangka panjang, pemulihan global tetap di jalurnya, meskipun dengan cara yang sangat tidak merata ditentukan oleh vaksin ada dan tidak," kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA, dalam catatannya. best profit

Sumber : Liputan6

Rabu, 21 Juli 2021

Best Profit | Harga Minyak Melonjak 4 Persen Meski Persediaan AS Naik

 


Best Profit (22/7) - Harga minyak naik lebih dari 4 persen pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta), memperpanjang kenaikan dari sesi perdagangan sebelumnya. Pendorong kenaikan harga minyak ini adalah peningkatan selera risiko investor meskipun data menunjukkan kenaikan tak terduka persediaan minyak AS.

Mengutip CNBC, Kamis (22/7/2021), harga minyak mentah berjangka Brent naik 4,15 persen dan menetap di USD 72,23 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 4,61 persen dan menetap di USD 70,30 per barel.

Harga minyak berjangka rebound setelah turun sekitar 7 persen pada perdagangan Senin lalu, menyusul kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ untuk meningkatkan pasokan sebesar 400 ribu barel per hari dari Agustus hingga Desember. best profit

Aksi jual diperparah oleh kekhawatiran bahwa peningkatan kasus Covid-19 varian Delta di pasar utama seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang yang akan memengaruhi permintaan.

Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan kenaikan harga minyak pada Rabu terjadi meskipun ada kenaikan stok minyak mentah AS untuk pertama kalinya sejak Mei 2021. Persediaan minyak mentah naik secara tak terduga sebesar 2,1 juta barel pekan lalu menjadi 439,7 juta barel. Padahal analis memperkirakan penurunan 4,5 juta barel.

Namun, persediaan bensin dan minyak sulingan mencatat penarikan masing-masing 121 ribu barel dan 1,3 juta barel. best profit

"Peningkatan jumlah minyak mentah ini jelas merupakan kejutan yang didorong oleh lonjakan impor dan penurunan ekspor," kata analis Again Capital New York John Kilduff.

"Satu-satunya aspek positif dari laporan tersebut adalah permintaan bensin yang kuat dan rebound bahan bakar sulingan." tambah dia.

Analis JPMorgan mengatakan permintaan global diperkirakan rata-rata 99,6 juta barel per hari pada Agustus, naik 5,4 mbd dari April.

Tetapi mereka juga mengatakan: “Kami melihat permintaan di kuartal IV 2021 hanya bertambah 330.000 dari baseline 2019 yang dinormalisasi karena cuaca yang lebih dingin mulai terjadi di belahan bumi utara dan musim perjalanan puncak telah berlalu.” best profit

Sumber : Liputan6

Kamis, 03 Juni 2021

Best Profit | Harga Minyak Stabil Usai Pecahkan Rekor di Perdagangan Sebelumnya

 


Best Profit (4/6) - Harga minyak hanya berubah sedikit pada penutupan perdagangan kamis. Hal ini terjadi setelah kenaikan dua hari berturut-turut yang membawa harga minyak berjangka ke level tertinggi dalam satu tahun, akibat penurunan persediaan.

Mengutip CNBC, Jumat (4/6/2021), harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Agustus turun 23 sen atau o,3 persen menjadi USD 71,12 per barel. Sedangkan harga minyak mentah AS turun 14 sen menjadi SD 68,69 per barel.

Harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi sejak September 2019 di USD 71,99 per barel di awal sesi. Sedangkan harga WTI naik setinggi USD 69,40 per barel. Terkuat sejak Oktober 2018, setelah naik 1,5 persen di sesi sebelumnya.

Persediaan minyak mentah AS turun 5,1 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penurunan 2,4 juta barel. Sementara stok bensin tumbuh 1,5 juta barel dan stok sulingan melonjak 3,7 juta barel. best profit

"Ini adalah laporan yang beragam karena kenaikan persediaan untuk bahan bakar bensin dan solar dan penurunan permintaan tersirat untuk bensin dan bahan bakar sulingan," analis Again Capital New York, John Kilduff.

Harga minyak telah meningkat dalam beberapa hari terakhir karena ekspektasi dari para analis, termasuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, bahwa permintaan minyak akan melebihi pasokan pada paruh kedua tahun 2021.

Pada Selasa kemarin, OPEC+ sepakat untuk melanjutkan rencana mengurangi pembatasan pasokan hingga Juli. langkah ini untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi. Kesepakatan ini memberikan dorongan kepada harga minyak.

Pertemuan OPEC+ berlangsung 20 menit, tercepat dalam sejarah, menunjukkan kepatuhan yang kuat di antara anggota dan keyakinan bahwa permintaan akan pulih setelah pandemi Covid-19 menunjukkan tanda-tanda mereda. best profit

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia memperpanjang kenaikannya, dipicu tanda-tanda pemulihan permintaan dari AS ke Eropa memicu optimisme di antara produsen dan analis di pasar minyak mentah.

Kontrak harga minyak berjangka di New York melonjak 1,6 persen. Patokan global minyak mentah Brent ditutup di atas angka psikologis USD 70 per barel selama dua hari berturut-turut untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli naik USD 1,11 menjadi USD 68,83 per barel. Brent untuk pengiriman Agustus naik USD 1,10 untuk mengakhiri sesi di USD 71,35 per barel, tertinggi sejak Mei 2019.

"Minyak dalam permintaan yang kuat saat ini, dengan ekonomi di seluruh dunia terbuka," ujar Daniel Yergin, Sejarawan minyak dan wakil ketua di konsultan IHS Markit Ltd., seperti melansir laman Bloomberg, Kamis (3/6/2021). best profit

Minggu ini, menteri energi Arab Saudi juga mengatakan gambaran permintaan telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan Fatih Birol dari Badan Energi Internasional mengatakan dia melihat pemulihan konsumsi yang kuat dalam enam bulan ke depan.

“Ada banyak ruang untuk kenaikan (harga minyak) di sini,” kata Bob Yawger, kepala divisi berjangka di Mizuho Securities.

“Musim panas dan pembukaan kembali ekonomi adalah bullish untuk permintaan, sementara tampaknya jauh lebih kecil kemungkinannya kita akan memiliki barel Iran dalam waktu dekat daripada minggu lalu," lanjut dia.

Patokan berjangka AS berada di level tertinggi sejak Oktober 2018. Para pedagang melihat harga minyak bergerak lebih tinggi dengan kebangkitan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 kemungkinan masih beberapa bulan lagi dan data real-time mengkonfirmasi rebound permintaan musim panas sedang berlangsung di beberapa negara. best profit

Permintaan bensin AS mencapai level tertinggi sejak pandemi dimulai minggu lalu, menurut Descartes Labs, sementara lalu lintas di jalan-jalan Inggris lebih tinggi daripada tingkat pra-pandemi untuk pertama kalinya.

Struktur dasar minyak juga telah menguat. Selisih antara dua kontrak Desember terdekat untuk West Texas Intermediate ditutup pada level terkuat sejak September 2019. Ukuran itu menunjukkan ekspektasi yang meningkat untuk ketatnya pasar.

Namun, pemulihan konsumsi yang solid di beberapa bagian Asia tetap sulit dipahami. Penjualan bensin di India, pasar sepeda motor dan skuter terbesar di dunia, anjlok ke level terendah dalam setahun karena gelombang kedua infeksi COVID-19 yang menghancurkan konsumsi. best profit

Sumber : Liputan6

Kamis, 27 Mei 2021

Best Profit | Harga Minyak Naik Usai Ekonomi AS Membaik

 


Best Profit (28/5) - Harga minyak naik tipis pada hari Kamis, didukung oleh data ekonomi AS yang kuat yang mengimbangi kekhawatiran investor tentang potensi kenaikan pasokan Iran.

Dilansir CNBC, Jumat (28/5/2021), harga minyak Brent naik 25 sen menjadi USD 69,12 per barel pada pukul 1:02 siang. EDT. Minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 34 sen menjadi USD 66,55 per barel.

Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun lebih dari yang diharapkan minggu lalu, menurut data dari Departemen Tenaga Kerja AS.

Ekonomi AS, yang pada kuartal pertama mencatat laju pertumbuhan tercepat kedua sejak kuartal ketiga tahun 2003, sedang mengumpulkan momentum, dengan data lain pada hari Kamis menunjukkan pengeluaran bisnis untuk peralatan dipercepat pada bulan April. best profit

"Itu memberi kami lebih banyak sikap berisiko tentang pasar," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. “Kami kembali berfokus pada penawaran dan permintaan,” lanjutnya

Prospek pasokan Iran masuk kembali ke pasar telah menekan harga. Iran dan kekuatan global telah bernegosiasi sejak April untuk mencari tahu bagaimana Teheran dan Washington harus mengamankan pencabutan sanksi terhadap Iran, termasuk sektor energinya, sebagai imbalan atas kepatuhan Iran dengan pembatasan pada pekerjaan nuklirnya. best profit

Pembicaraan itu akan menjadi masalah besar untuk pertemuan 1 Juni Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +. Produsen harus menilai apakah akan mengubah rencana untuk mengurangi pembatasan produksi terhadap prospek tambahan pasokan Iran. Hal ini yang menjadi penggerak harga minyak.

Analis mengatakan setiap peningkatan pasokan dari Iran akan bertahap, dengan JP Morgan memperkirakan Iran dapat menambah 500.000 barel per hari (bph) pada akhir tahun ini dan 500.000 bph lagi pada Agustus 2022.

Kekhawatiran juga tetap tentang permintaan di India, konsumen minyak terbesar ketiga di dunia. India sangat terpukul oleh virus korona, dan hanya sekitar 3 persen dari populasinya yang telah divaksinasi penuh, menurut pelacak vaksin Reuters. best profit

Sumber : Liputan6

Senin, 03 Mei 2021

Best Profit | Harga Minyak Naik Terdorong Peningkatan Permintaan

 


Best Profit (4/5) - Harga Minyak naik pada hari Senin (03/05) karena optimisme atas rebound permintaan yang kuat di negara-negara termasuk Amerika Serikat mengatasi kekhawatiran tentang lonjakan kasus virus corona India dan pasokan minyak OPEC + yang lebih tinggi.

India pada hari Senin melaporkan lebih dari 300.000 kasus virus corona baru selama 12 hari berturut-turut. Gelombang baru virus telah menyebabkan penurunan penjualan bahan bakar di konsumen terbesar ketiga dunia pada bulan April.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate menambahkan 67 sen, atau 1%, menjadi $ 64,26. best profit

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 66 sen, atau 1% menjadi $ 67,42 per barel.

Brent telah menguat hampir 30% tahun ini, pulih dari posisi terendah bersejarah tahun lalu berkat rekor pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama dikenal sebagai OPEC +.

Namun, pasokan yang lebih tinggi membatasi perolehan minyak. OPEC + memutuskan pekan lalu untuk tetap berpegang pada rencana untuk meningkatkan pasokan sedikit dari 1 Mei dan produksi OPEC naik pada bulan April, dipimpin oleh dorongan dari Iran, sebuah survei Reuters menemukan. best profit

Dalam perkembangan lain yang dapat memungkinkan peningkatan lebih lanjut untuk pasokan Iran, Teheran dan kekuatan dunia mengadakan pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Kepala negosiator nuklir Iran pada hari Sabtu mengatakan bahwa Teheran memperkirakan sanksi AS terhadap minyak, bank, dan sebagian besar individu serta institusi akan dicabut. best profit

Sumber : Vibiznews

Rabu, 14 April 2021

Best Profit | Harga Minyak Melonjak Hampir 5 Persen Didorong Sinyal Lonjakan Konsumsi BBM

 


Best Profit (15/4) - Harga minyak melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta), setelah laporan dari Badan Energi Internasional, diikuti oleh data inventaris AS meningkatkan optimisme tentang kembalinya permintaan minyak mentah.

Dikutip dari CNBC, Kamis (15/4/2021), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 2,91 atau 4,57 persen menjadi USD 66,58 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup USD 2,97 atau 4,94 persen lebih tinggi pada USD 63,15 per barel.

Persediaan minyak mentah AS turun 5,9 juta barel pekan lalu, kata Administrasi Informasi Energi (EIA) melebihi perkiraan analis untuk penurunan 2,9 juta barel. Stok minyak mentah Pantai Timur mencapai rekor terendah.

Laporan EIA menunjukkan, pasokan bensin pada minggu terakhir, menunjukkan konsumsi bahan bakar AS, naik menjadi 8,9 juta barel per hari, tertinggi sejak Agustus. best profit

Stok bensin naik tipis 309.000 barel, kurang dari ekspektasi kenaikan 786.000 barel. Stok distilasi turun 2,1 juta barel dalam seminggu, dibandingkan ekspektasi kenaikan 971.000 barel.

"Secara keseluruhan, itu adalah laporan yang sangat mendukung," kata Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group di Chicago.

“Tampaknya kami benar-benar mendapatkan pengembalian ke beberapa jumlah permintaan yang lebih solid dan itu akan membuat kami terus maju," lanjut dia.

Di awal sesi, harga minyak naik karena laporan dari Badan Energi Internasional yang memperkirakan permintaan dan pasokan minyak global akan menyeimbangkan kembali pada paruh kedua tahun ini. best profit

Ia menambahkan bahwa produsen mungkin perlu memompa tambahan 2 juta barel per hari untuk memenuhi permintaan yang diharapkan.

“Laporan IEA tersebut adalah salah satu laporan terbaik yang kami lihat mereka publikasikan beberapa waktu kemudian dalam hal optimis tentang berlanjutnya rebound permintaan,” kata John Kilduff, Partner di Again Capital di New York. best profit

Demikian pula, Organisasi Negara Pengekspor Minyak pada Selasa menaikkan perkiraan permintaan globalnya sebesar 70.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu dan sekarang memperkirakan permintaan global akan meningkat sebesar 5,95 juta barel per hari pada tahun 2021.

Tanda-tanda pemulihan ekonomi yang kuat di China dan Amerika Serikat telah mendukung kenaikan harga baru-baru ini, tetapi peluncuran vaksin yang terhenti di seluruh dunia dan melonjaknya kasus COVID-19 di India dan Brasil telah memperlambat kemajuan pasar. best profit

Sumber : Liputan6

Minggu, 10 Januari 2021

Best Profit | Harga Minyak Cetak Rekor Tertinggi dalam Hampir Setahun

 


Best Profit (11/1) - Harga minyak mencapai level tertinggi dalam hampir satu tahun dan berada di jalur untuk kenaikan mingguan pada perdagangan Jumat. Hal ini didukung oleh komitmen Arab Saudi untuk memangkas produksi dan keuntungan yang kuat di pasar ekuitas utama.

Melansir laman CNBC, Sabtu (9/1/2021), harga minyak mentah Brent naik 94 sen atau 1,8 persen menjadi USD 55,35 per barel, dan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik USD 1,41 atau 2,8 persen pada USD 52,24 per barel. Ini menjadi level tertinggi sejak akhir Februari.

Kedua harga patokan minyak ini berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 6 persen.

"Orang-orang menyadari pasar lebih ketat daripada sebelumnya dan bahwa komitmen Arab Saudi untuk mengurangi produksi akan menjaga keseimbangan pasar meskipun ada kekhawatiran tentang penutupan dari COVID," kata Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group di Chicago. best profit

Arab Saudi minggu ini menjanjikan pengurangan produksi minyak tambahan secara sukarela sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada bulan Februari dan Maret sebagai bagian dari kesepakatan di mana sebagian besar produsen OPEC+ akan mempertahankan produksi stabil selama penguncian (lockdown) baru.

Para analis mengatakan harga minyak dapat mengalami koreksi dalam beberapa bulan mendatang jika permintaan bahan bakar tetap dibatasi oleh pandemi Covid-19.

Pembatasan ketat pada perjalanan dan aktivitas lain di seluruh dunia untuk menahan lonjakan kasus COVID-19 membebani penjualan bahan bakar, melemahkan prospek pemulihan permintaan energi pada paruh pertama 2021.

Pandemi tersebut mengklaim jumlah kematian tertinggi di AS pekan ini, memakan korban jiwa lebih dari 4.000 orang dalam satu hari, Sementara China melaporkan kenaikan terbesar dalam kasus harian dalam lebih dari lima bulan dan Jepang dapat memperpanjang keadaan darurat di luar wilayah Tokyo yang lebih besar. best profit

Reli ekuitas global mendorong indeks Nikkei Jepang dan saham AS ke rekor baru, karena investor fokus pada stimulus lebih lanjut untuk memperbaiki kerusakan ekonomi dari pandemi.

Kongres AS mungkin segera menyetujui lebih banyak bantuan pandemi, sebuah skenario yang menjadi lebih mungkin setelah Demokrat Georgia memenangkan kursi Senat yang menyerahkan kendali Demokrat atas kedua majelis Kongres begitu Biden dilantik sebagai Presiden AS.

"Kompleks energi menempatkan fokus khusus pada kemenangan demokratis dalam pemilihan umum Georgia yang, pada gilirannya, meningkatkan kemungkinan langkah-langkah stimulus yang lebih besar," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates. best profit

Harga minyak mentah dunia naik usai Arab Saudi yang merupakan eksportir terbesar dunia, secara sepihak setuju untuk memangkas produksi selama dua bulan ke depan dan karena stok minyak mentah AS yang turun.

Kerusuhan di Capitol AS oleh pendukung Presiden Donald Trump juga diprediksi akan berdampak pada pasar dan harga minyak. Meskipun beberapa analis yakin pemerintahan Presiden terpilih Joe Biden akan mampu menekan produksi minyak AS.

Melansir laman CNBC, Jumat (8/1/2021), harga minyak mentah Brent naik 22 sen, atau 0,41 persen, menjadi USD 54,52 per barel, setelah naik 1,3 persen sebelumnya. best profit

Adapun US West Texas Intermediate (WTI) naik 23 sen, atau 0,45 persen diperdagangkan pada posisi USD 50,86 per barel. Kontrak harga minyak ini naik 1,4 persen sehari sebelumnya.

Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, mengatakan akan secara sukarela memangkas 1 juta barel per hari (bph) produksi pada Februari dan Maret. Ini dilakukan usai OPEC +, yang mengelompokkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen lain, termasuk Rusia, bertemu sebelumnya.

"Minyak mentah WTI tampaknya siap untuk naik lebih tinggi karena pemerintahan Biden akan menekan produksi minyak mentah AS, Saudi secara tentatif mengurangi kekhawatiran kelebihan pasokan dengan pemotongan 1 juta barel per hari mereka, dan karena hari-hari dolar tampaknya terhitung," kata Edward Moya, pasar senior analis di OANDA.

Menurut analis, Dolar yang lebih rendah, juga membuat harga minyak lebih murah karena komoditas tersebut sebagian besar diperdagangkan menggunakan greenback, juga mendukung harga. best profit

"Stok minyak mentah AS turun dan persediaan bahan bakar naik," mengutip penjelasan Lembaga Administrasi Informasi Energi AS.

Persediaan minyak mentah turun 8 juta barel dalam sepekan hingga 1 Januari menjadi 485,5 juta barel. Ini berbeda dengan jajak pendapat Reuters yang menunjukkan analis memperkirakan penurunan 2,1 juta barel.

Penurunan stok minyak mentah adalah kejadian akhir tahun yang biasa terjadi ketika perusahaan energi mengeluarkan minyak dari penyimpanan untuk menghindari tagihan pajak.

Namun, kenaikan harga WTI yang berkelanjutan dapat menyebabkan kebangkitan kembali output AS.

"Jika patokan AS membuat harga di atas USD 50 / bbl dan seterusnya, itu dapat mendorong tambahan pasokan AS, yang mungkin merepotkan dalam jangka panjang bagi banyak anggota OPEC +," kata Kevin Solomon, Analis Pasar energi di StoneX. best profit

Sumber : Liputan6