
Bestprofit (5/2) – Pasar logam mulia global kembali mengalami tekanan hebat setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir tiba-tiba terhenti. Harga emas dan perak berfluktuasi tajam, dipicu oleh aksi ambil untung, likuidasi posisi spekulatif, serta meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat menyusul penunjukan ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru. Kondisi ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap sinyal kebijakan suku bunga dan stabilitas bank sentral AS.
Emas Gagal Bertahan di Atas Level Psikologis
Harga emas spot tercatat turun hingga 2,5% dalam perdagangan yang bergejolak, setelah sebelumnya sempat bergerak di atas level psikologis $5.000 per ons. Namun, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan. Pada perdagangan Selasa pagi waktu Singapura, emas spot turun 2,3% ke level $4.850,16 per ons.
Penurunan ini terjadi setelah emas sempat memulihkan sebagian kerugian dalam dua sesi sebelumnya. Sebelumnya, logam kuning mengalami koreksi tajam yang disebut pelaku pasar sebagai salah satu penurunan harian terbesar sejak 2013. Meski demikian, secara tahunan emas masih mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sekitar 14% sejak awal tahun, meskipun posisinya kini sekitar 12% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 29 Januari lalu.
Perak Alami Penurunan Paling Tajam dalam Sejarah
Jika emas mengalami koreksi signifikan, kondisi perak jauh lebih ekstrem. Harga perak anjlok hingga 14%, menandai salah satu penurunan harian terdalam yang pernah tercatat. Bahkan, pada akhir pekan lalu, perak mencatatkan penurunan harian terbesar sepanjang sejarah, mencerminkan tingginya tekanan jual dan likuidasi posisi spekulatif.
Penurunan tajam ini menggarisbawahi karakter perak yang cenderung lebih volatil dibanding emas. Selain berfungsi sebagai aset lindung nilai, perak juga memiliki komponen permintaan industri yang besar, sehingga lebih sensitif terhadap perubahan sentimen ekonomi global dan aktivitas spekulatif.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Reli Spekulatif yang Terhenti Mendadak
Lonjakan harga logam mulia bulan lalu didorong oleh kombinasi beberapa faktor utama. Momentum spekulatif yang kuat, meningkatnya ketegangan geopolitik global, serta kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral AS menjadi katalis utama reli tersebut. Banyak investor melihat emas dan perak sebagai aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian global dan potensi pelonggaran kebijakan moneter.
Namun, reli tersebut berhenti secara mendadak. Aksi ambil untung besar-besaran, ditambah dengan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS, memicu koreksi tajam. Likuidasi posisi pada produk yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded products/ETP) juga memperparah volatilitas jangka pendek.
Fokus Pasar pada Penunjukan Ketua The Fed
Pasar kini sangat mencermati implikasi kebijakan dari pencalonan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak akan mencalonkan Warsh jika yang bersangkutan memiliki keinginan untuk menaikkan suku bunga. Dalam wawancaranya dengan NBC News, Trump bahkan menegaskan bahwa “tidak banyak” keraguan bahwa The Fed akan kembali menurunkan suku bunga.
Pernyataan ini menjadi perhatian utama investor karena arah kebijakan suku bunga AS memiliki dampak langsung terhadap harga emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah atau menurun. Sebaliknya, ekspektasi kenaikan suku bunga biasanya menekan daya tarik emas.
Volatilitas Diperkirakan Masih Berlanjut
Analis Standard Chartered Plc, termasuk Sudakshina Unnikrishnan, menilai bahwa pergerakan harga logam mulia kemungkinan akan tetap bergejolak hingga terdapat kejelasan yang lebih besar terkait prospek kebijakan moneter AS. Dalam catatan mereka, disebutkan bahwa sebagian volatilitas jangka pendek disebabkan oleh investor yang menebus kepemilikan mereka dalam produk ETP.
Meski demikian, mereka menegaskan bahwa faktor-faktor struktural yang mendukung harga emas masih tetap utuh. Oleh karena itu, Standard Chartered masih mengharapkan adanya pemulihan harga emas ke arah yang lebih tinggi dalam jangka menengah hingga panjang, seiring meredanya tekanan jangka pendek.
Fundamental Emas Dinilai Masih Kuat
Banyak investor dan analis tetap optimistis terhadap prospek emas. Fundamental utama yang mendorong harga emas ke rekor tertinggi dinilai belum berubah. Salah satu faktor kunci adalah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, yang bertujuan untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka dari obligasi pemerintah dan mata uang tertentu.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik global dan risiko fiskal di beberapa negara maju terus memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai. Dalam konteks ini, koreksi harga justru dipandang oleh sebagian investor sebagai peluang untuk masuk kembali ke pasar.
Strategi Investor Institusional
Fidelity Fund menjadi salah satu contoh investor institusional yang bersikap taktis. Dana tersebut diketahui telah menjual sebagian besar kepemilikan emasnya beberapa hari sebelum terjadinya penurunan tajam. Namun, manajer portofolio Fidelity, George Efstathopoulos, mengatakan kepada Bloomberg News bahwa pihaknya kini tengah mengamati peluang untuk membeli kembali emas jika kondisi pasar dinilai lebih stabil.
Langkah ini mencerminkan pendekatan yang berhati-hati namun oportunistis, di mana investor institusional memanfaatkan volatilitas tinggi untuk mengatur ulang posisi portofolio mereka.
Proyeksi Optimistis dari Perbankan Global
Sejumlah bank investasi besar tetap memberikan proyeksi optimistis terhadap harga emas. Deutsche Bank AG, misalnya, menegaskan bahwa mereka masih mempertahankan perkiraan kenaikan harga emas hingga mencapai $6.000 per ons. Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc. menyatakan melihat adanya “risiko kenaikan yang signifikan” terhadap perkiraan harga akhir tahun mereka sebesar $5.400 per ons.
Pandangan optimistis ini didasarkan pada kombinasi faktor kebijakan moneter longgar, permintaan bank sentral yang berkelanjutan, serta meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pergerakan Logam Mulia dan Dolar AS
Selain emas dan perak, logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium juga mengalami penurunan harga. Sementara itu, Indeks Spot Dolar Bloomberg, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama, tercatat relatif stabil setelah naik 0,3% pada sesi sebelumnya.
Stabilnya dolar AS menunjukkan bahwa tekanan pada logam mulia saat ini lebih banyak berasal dari faktor internal pasar dan ekspektasi kebijakan, bukan dari penguatan signifikan mata uang AS.
Penutup: Menunggu Kepastian Arah Kebijakan
Secara keseluruhan, pasar logam mulia saat ini berada dalam fase konsolidasi yang sarat volatilitas. Investor masih menimbang berbagai sinyal dari pembuat kebijakan AS, khususnya terkait arah suku bunga dan independensi Federal Reserve. Selama ketidakpastian ini belum terjawab, pergerakan harga emas dan perak diperkirakan akan tetap fluktuatif.
Namun, dengan fundamental jangka panjang yang masih kuat, banyak pelaku pasar percaya bahwa koreksi saat ini bukanlah akhir dari tren kenaikan, melainkan bagian dari proses penyesuaian sebelum arah selanjutnya menjadi lebih jelas. Jika Anda ingin, saya juga bisa menyesuaikan gaya artikel ini menjadi versi media online, laporan pasar harian, atau analisis investasi.
Jangan
lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam
informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan
baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures
Tidak ada komentar:
Posting Komentar