Minggu, 17 Mei 2026

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Tensi AS-Iran

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/05/compressed_Emas-Terkoreksi-Ekspektasi-The-Fed-Menguat.jpg

Bestprofit (18/5) – Pasar finansial global kembali diguncang oleh ketidakpastian geopolitik yang eskalatif di Timur Tengah. Emas, yang dikenal sebagai aset aman (safe haven), mengalami volatilitas tinggi setelah sempat melemah hingga 1,3% sebelum akhirnya memangkas sebagian besar penurunannya. Komoditas ini kembali diperdagangkan di kisaran US$4.535 per ons setelah sempat terpuruk hampir 4% pada pekan lalu.

Dinamika ini mencerminkan tarik-menarik yang kuat antara fungsi tradisional emas sebagai pelindung nilai terhadap risiko geopolitik dan tekanan makroekonomi berupa kenaikan yield (imbal hasil) obligasi serta potensi pengetatan kebijakan moneter akibat ancaman inflasi energi.

Kebuntuan Selat Hormuz dan Lonjakan Premi Risiko Energi

Faktor utama yang menggerakkan volatilitas pasar saat ini adalah kebuntuan diplomatik di Selat Hormuz. Jalur maritim tersebut merupakan salah satu urat nadi paling vital bagi arus pasokan energi dunia. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata sepakat untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali selat tersebut secara efektif.

Selama Selat Hormuz tetap tertutup atau terganggu, premi risiko energi akan tetap berada di level tertinggi. Pasar komoditas sangat sensitif terhadap setiap headline geopolitik yang muncul. Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak mentah global akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Retorika Trump dan Ancaman Inflasi Berbasis Energi

Minyak mentah mencatatkan kenaikan harga pada perdagangan hari Senin (18/05) setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Retorika yang memanas ini langsung direspons oleh pasar minyak dengan kenaikan harga, yang pada gilirannya memperbesar kekhawatiran global terhadap lonjakan inflasi.

Inflasi yang didorong oleh kenaikan harga energi (energy-driven inflation) adalah salah satu momok terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. Ketika biaya energi melambung, biaya produksi dan transportasi di seluruh dunia ikut terkerek naik. Bagi pasar emas, situasi ini bak pisau bermata dua:

  • Di satu sisi, emas diminati sebagai lindung nilai (hedging) terhadap penurunan daya beli akibat inflasi.

  • Di sisi lain, ekspektasi inflasi yang tinggi meningkatkan peluang bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer) atau bahkan menaikkannya lagi. Karena emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), prospek suku bunga tinggi umumnya menekan daya tarik emas bagi investor.

Aksi Jual Global di Pasar Obligasi dan Lonjakan Yield

Kekhawatiran akan inflasi akibat perang langsung menjalar ke pasar obligasi global. Para pelaku pasar melakukan aksi jual masif terhadap surat utang, yang menyebabkan harga obligasi jatuh dan mendorong yield naik tajam. Investor meyakini bahwa lonjakan inflasi berbasis energi akan memaksa bank sentral untuk mengetatkan kebijakan moneter secara agresif guna mendinginkan perekonomian.

Lembaga keuangan ANZ menilai bahwa kenaikan yield obligasi global ini secara langsung memperburuk profil risk-reward emas. Ketika obligasi pemerintah yang bebas risiko memberikan imbal hasil yang semakin tinggi, biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi terlalu mahal. Akibatnya, sebagian investor institusional memilih untuk mengurangi posisi mereka pada logam mulia ini.

Meski demikian, ANZ juga mencatat adanya potensi dukungan jangka panjang bagi emas. Jika tekanan inflasi ini pada akhirnya memukul pertumbuhan ekonomi global secara drastis (stagflasi), bank sentral kemungkinan besar harus beralih kembali ke kebijakan pelonggaran moneter. Pada titik itulah emas diproyeksikan akan kembali mendapatkan momentum penguatan yang signifikan.

Kontras Permintaan Fisik: India Mengetat, China Bertahan

Selain faktor makroekonomi dan geopolitik, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh dinamika permintaan fisik di dua konsumen terbesar dunia: India dan China.

Saat ini, pasar fisik menghadapi tantangan dari India. Negara tersebut menerapkan kebijakan impor emas yang lebih ketat, yang berdampak pada melemahnya volume impor emas fisik ke dalam negeri. Penurunan permintaan dari India biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga spot global.

Namun, pelemahan di Asia Selatan ini diperkirakan dapat diimbangi oleh kuatnya permintaan dari China. Investor domestik di China terus memburu emas sebagai langkah diversifikasi di tengah ketidakpastian pasar modal lokal dan nilai tukar. Ketahanan permintaan fisik dari China ini berfungsi sebagai bantalan yang menahan harga emas dari kejatuhan yang lebih dalam.

Menanti Risalah The Fed dan Pergerakan Harga Terkini

Fokus para pelaku pasar minggu ini tertuju pada rilis risalah rapat (minutes of meeting) The Fed. Dokumen ini sangat dinantikan karena akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah pandangan para pejabat bank sentral AS terhadap inflasi energi dan prospek suku bunga acuan ke depan.

Pada perdagangan hari Senin pukul 13:06 waktu Singapura, pasar spot menunjukkan pergerakan yang konsolidatif namun cenderung tertekan:

  • Emas Spot: Turun tipis 0,1% ke level US$4.536,26 per ons.

  • Perak: Mengalami koreksi yang lebih dalam sebesar 0,8%.

  • Indeks Dolar (DXY): Naik tipis, melanjutkan tren penguatan yang terjadi pada pekan lalu.

Penguatan dolar AS ini turut menjadi faktor penekan bagi emas, karena membuat harga komoditas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.

Kesimpulan

Pasar keuangan global saat ini berada dalam fase volatilitas tinggi yang digerakkan oleh berita utama geopolitik. Emas berada di persimpangan jalan; terjepit di antara sentimen safe haven akibat konflik Selat Hormuz dan tekanan berat dari lonjakan yield obligasi serta penguatan dolar AS.

Ke depan, arah pergerakan emas akan sangat bergantung pada seberapa lama konflik energi ini berlangsung dan bagaimana The Fed merespons ancaman inflasi baru ini dalam risalah rapat mereka mendatang. Selama ketidakpastian geopolitik belum mereda, emas diperkirakan akan terus berfluktuasi tajam di kisaran level psikologisnya saat ini.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Tidak ada komentar:

Posting Komentar