Selasa, 03 Februari 2026

Bestprofit | Crash Usai, Emas Bertahan

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Ketegangan-Naik-Emas-Tetap-Kokoh-Dekat-ATH-1.jpg

Bestprofit (4/2) – Harga emas menunjukkan pergerakan yang relatif stabil pada awal perdagangan Asia, setelah sebelumnya mencatat rebound kuat dari kejatuhan tajam pasca-menyentuh rekor tertinggi. Bullion bertahan di atas level US$4.920 per ons, menandai konsolidasi pasar setelah lonjakan lebih dari 6% pada sesi sebelumnya. Rebound ini terjadi seiring membaiknya sentimen risk-on global dan melemahnya dolar Amerika Serikat, dua faktor yang secara historis mendukung pergerakan harga emas.

Meski volatilitas masih terasa, pasar mulai menemukan pijakan baru setelah aksi jual ekstrem yang mengguncang logam mulia akhir pekan lalu. Investor kini berada dalam mode “menimbang ulang”, mencoba menentukan apakah reli emas masih memiliki tenaga lanjutan atau justru sedang memasuki fase koreksi yang lebih dalam.

Jarak Emas dari Rekor Masih Terbilang Jauh

Walaupun rebound terbilang impresif, posisi emas saat ini masih cukup jauh dari level puncaknya. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga emas tercatat sekitar 12% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Fakta ini menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi sebelumnya bukanlah pergerakan kecil, melainkan penyesuaian signifikan setelah reli agresif.

Namun, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, performa emas sepanjang tahun berjalan masih sangat solid. Hingga saat ini, harga emas telah naik hampir 15% secara year-to-date, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik di tengah ketidakpastian global. Ini memperkuat pandangan bahwa tren jangka menengah hingga panjang emas masih cenderung positif, meski jalannya tidak lagi mulus.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Reli Bulan Lalu: Kombinasi Spekulasi dan Safe Haven

Lonjakan harga emas yang terjadi bulan lalu tidak datang tanpa alasan. Reli tersebut dipacu oleh kombinasi momentum spekulatif, meningkatnya permintaan safe haven akibat tensi geopolitik global, serta kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral, terutama di negara-negara utama.

Di sisi spekulatif, posisi beli di pasar derivatif meningkat tajam, mencerminkan keyakinan bahwa emas akan terus menanjak. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik mendorong investor institusional dan ritel untuk kembali memarkir dana pada aset lindung nilai. Narasi mengenai potensi tekanan politik terhadap kebijakan moneter juga memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai yang “bebas dari risiko kebijakan”.

Koreksi Mendadak: Alarm bahwa Kenaikan Terlalu Cepat

Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Akhir pekan lalu, pasar emas mengalami koreksi keras setelah muncul peringatan bahwa kenaikan harga telah berlangsung terlalu cepat dan terlalu tinggi. Banyak pelaku pasar mulai menyadari bahwa reli tersebut tidak sepenuhnya ditopang oleh fundamental jangka pendek, melainkan oleh ekspektasi dan positioning yang terlalu padat.

Hasilnya, emas mencatat penurunan harian terburuk sejak 2013, sebuah sinyal kuat bahwa pasar sedang melakukan reset. Aksi ambil untung besar-besaran (profit taking) mempercepat tekanan jual, sementara likuidasi posisi spekulatif memperparah volatilitas. Momen ini menjadi pengingat bahwa bahkan aset safe haven sekalipun tidak kebal terhadap koreksi tajam.

Pergerakan Pagi Ini: Emas Melemah Tipis, Logam Lain Ikut Terkoreksi

Pada perdagangan pagi ini, harga emas tercatat turun tipis sekitar 0,4% ke US$4.929,48 per ons pada pukul 07.10 waktu Singapura. Pelemahan ini relatif moderat dan lebih mencerminkan fase konsolidasi ketimbang pembalikan tren.

Logam mulia lain menunjukkan tekanan yang lebih jelas. Perak turun sekitar 1,3% ke US$84,09 per ons, sementara platinum dan paladium juga mengalami koreksi. Pergerakan serempak ini mengindikasikan bahwa pasar logam masih berada dalam fase penyesuaian risiko, dengan investor cenderung lebih berhati-hati setelah gejolak tajam sebelumnya.

Peran Dolar AS dalam Menahan Tekanan Emas

Salah satu faktor penyeimbang penting bagi emas adalah pergerakan dolar AS. Bloomberg Dollar Spot Index menutup sesi sebelumnya turun sekitar 0,3%, memberikan ruang bagi emas untuk tetap bertahan di level tinggi meski volatilitas belum sepenuhnya mereda.

Secara historis, hubungan terbalik antara dolar AS dan emas menjadi penopang utama bagi logam mulia. Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung meningkat. Dalam konteks saat ini, melemahnya dolar membantu meredam tekanan jual yang seharusnya lebih besar pasca-koreksi tajam.

Sentimen Risk-On Mulai Kembali, Tapi Hati-Hati

Membaiknya sentimen risk-on global turut berkontribusi pada stabilisasi harga emas. Pasar saham yang mulai pulih dan berkurangnya kepanikan ekstrem mendorong investor untuk kembali melakukan rebalancing portofolio secara lebih rasional.

Namun demikian, kehati-hatian masih mendominasi. Investor kini lebih selektif dan tidak lagi mengejar harga secara agresif seperti beberapa minggu lalu. Fokus pasar mulai bergeser ke pertanyaan besar: apakah faktor-faktor fundamental yang mendorong reli emas masih cukup kuat untuk menopang kenaikan lanjutan, atau justru pasar akan bergerak sideways dalam waktu dekat.

Prospek Ke Depan: Volatilitas Masih Membayangi

Ke depan, volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pergerakan emas. Pasar masih mencerna dampak dari koreksi tajam sekaligus menunggu katalis baru yang dapat memberikan arah lebih jelas. Data ekonomi AS, arah kebijakan moneter global, serta perkembangan geopolitik akan menjadi penentu utama.

Meski demikian, selama emas mampu bertahan di atas level psikologis kunci dan dolar AS tidak kembali menguat tajam, logam mulia ini berpotensi mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai utama. Untuk saat ini, stabilisasi di awal perdagangan Asia menjadi sinyal bahwa pasar mulai menemukan keseimbangan baru—meski jalan ke depan masih penuh liku.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Senin, 02 Februari 2026

Bestprofit | Emas Terkoreksi dari Level Tertinggi

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Cetak-Rekor-Dolar-AS-Melemah.jpg

Bestprofit (3/2) – Harga emas spot melemah signifikan pada perdagangan Senin (2/2), meski sempat memangkas sebagian penurunan tajamnya di tengah sesi. Tekanan jual yang kuat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya. Kabar tersebut menjadi katalis utama yang mengguncang pasar keuangan global, menyeret aset berisiko sekaligus menekan logam mulia yang selama ini diuntungkan oleh ketidakpastian.

Pada pukul 13:50 waktu timur AS (18:50 GMT), emas spot tercatat turun 4,2% ke level $4.660,22 per ons. Sebelumnya, harga sempat anjlok lebih dalam hingga menyentuh $4.402,38 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka April juga bergerak melemah, turun 1,3% ke $4.682,86 per ons.

Pelemahan ini memperpanjang koreksi tajam yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat, emas spot “menghapus” hampir 10% nilainya setelah jatuh drastis dari rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran hampir $5.600 per ons yang tercetak pekan sebelumnya.

Tekanan Jual Menguat Usai Nominasi Kevin Warsh

Aksi jual emas yang agresif terutama dipicu oleh keputusan Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang. Langkah ini dipandang pasar sebagai faktor yang mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter, sehingga sebagian permintaan safe haven terhadap emas mulai memudar.

Selama beberapa bulan terakhir, emas diuntungkan oleh ketidakjelasan arah kebijakan The Fed, terutama terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga. Dengan munculnya nama Warsh, pasar mulai melakukan reposisi, termasuk aksi ambil untung (profit taking) di area harga yang dinilai sudah terlalu tinggi setelah reli ekstrem.

Kevin Warsh bukanlah figur asing di dunia kebijakan moneter. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed dan dikenal memiliki pandangan yang relatif tegas terhadap inflasi. Meski ia kerap sejalan dengan dorongan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah guna mendukung pertumbuhan ekonomi, Warsh juga pernah melontarkan kritik terhadap kebijakan pembelian aset skala besar (quantitative easing) yang diterapkan The Fed pascakrisis.

Ketidakpastian terkait sikap Warsh—apakah akan cenderung hawkish atau dovish—membuat pasar bersikap defensif. Namun, dalam jangka pendek, nominasi ini cukup untuk memicu koreksi tajam di pasar emas yang sebelumnya berada di zona spekulatif.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Penguatan Dolar AS Menambah Beban Emas

Selain faktor kebijakan moneter, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Indeks dolar AS bangkit dari level terendah empat tahun setelah kabar nominasi Warsh mencuat. Secara historis, penguatan dolar kerap menjadi sentimen negatif bagi emas, karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Meski mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, emas sejatinya masih mencatat kinerja yang sangat kuat secara bulanan. Sepanjang Januari, harga emas tetap menutup perdagangan dengan kenaikan hampir 15%, didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pelonggaran moneter global, serta pembelian agresif dari bank sentral.

Redanya Ketegangan Geopolitik Kurangi Permintaan Safe Haven

Faktor geopolitik yang sebelumnya menjadi penopang utama harga emas juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Dorongan safe haven melemah setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran terbuka untuk menggelar putaran negosiasi baru, di tengah ketegangan Timur Tengah yang sempat memanas.

Menurut laporan Axios, mediator internasional tengah mengupayakan pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Turki dalam waktu dekat. Informasi ini diperkuat oleh pernyataan Trump pada akhir pekan lalu yang menyebut bahwa AS dan Iran sedang bernegosiasi “secara serius” terkait ambisi nuklir Iran.

Sebelumnya, eskalasi ketegangan geopolitik—termasuk keputusan Trump mengerahkan armada laut ke kawasan Timur Tengah—telah mendorong lonjakan harga emas sepanjang Januari. Harapan akan deeskalasi konflik kini membuat sebagian investor mengurangi eksposur mereka terhadap aset safe haven.

Koreksi Sudah Terjadi Sebelum Berita Warsh

Thierry Wizman, analis dari Macquarie, menilai bahwa pelemahan emas sebenarnya sudah mulai terjadi setelah harga mencapai level spekulatif yang ekstrem. Menurutnya, koreksi tersebut bahkan telah berlangsung sebelum rumor dan berita mengenai nominasi Kevin Warsh menyebar luas di pasar.

Wizman juga menambahkan bahwa prospek tercapainya “kesepakatan” antara AS dan Iran berpotensi memperparah pelemahan emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelaku pasar masih belum sepakat mengenai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

Target Jangka Panjang Tetap Optimistis

Meski mengalami koreksi tajam, sejumlah lembaga keuangan besar tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas dalam jangka panjang. Deutsche Bank pada Senin menegaskan kembali target harga emas di level $6.000 per ons. Bank tersebut menilai masih terdapat bukti aktivitas spekulatif yang kuat, serta keyakinan bahwa pendorong fundamental tren emas belum berubah.

JPMorgan bahkan menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi $6.300 per ons. Proyeksi ini didasarkan pada permintaan yang tetap solid dari bank sentral global dan investor institusional, meskipun volatilitas harga diperkirakan akan meningkat seiring perubahan dinamika kebijakan moneter dan geopolitik.

Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Tertekan

Koreksi tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 6,7% ke $78,96 per ons. Dalam sesi yang sama, perak sempat merosot hingga sekitar 12%, menambah penurunan tajam sebesar 27% yang terjadi pada Jumat. Penurunan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penurunan harian terbesar dalam catatan sejarah.

Sementara itu, harga platina spot bergerak lebih stabil. Platina diperdagangkan sedikit lebih tinggi di level $2.124,40 per ons, setelah sebelumnya sempat turun tajam hingga $1.882,00 per ons. Pergerakan platina yang relatif lebih tahan banting mencerminkan perbedaan faktor fundamental dan permintaan industri dibandingkan emas dan perak.

Volatilitas Masih Membayangi Pasar

Dengan kombinasi faktor kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global, pasar emas diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi dalam waktu dekat. Koreksi tajam yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa reli ekstrem kerap diikuti oleh fase penyesuaian yang agresif.

Meski demikian, bagi investor jangka panjang, prospek emas masih dinilai menarik, terutama jika ketidakpastian global kembali meningkat dan kebijakan moneter dunia bergerak ke arah yang lebih akomodatif.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Minggu, 01 Februari 2026

Bestprofit | Minyak Berbalik Turun Usai Reli 16%

https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Minyak-Melemah-Risiko-Gangguan-Kazakhstan-Mereda-1.jpg

Bestprofit (2/2) – Harga minyak mentah global jatuh tajam setelah sebelumnya mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Pasar yang dalam beberapa pekan terakhir “ngegas” karena ketegangan geopolitik kini mendadak mengerem. Pelaku pasar mulai menilai bahwa risiko gangguan pasokan yang sempat dikhawatirkan ternyata tidak terjadi dalam waktu dekat, sehingga premi risiko yang telanjur menempel di harga mulai dilepas.

Minyak Brent bergerak di kisaran US$68 per barel setelah melonjak sekitar 16% sepanjang bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Koreksi ini menandai perubahan sentimen yang cukup cepat: dari pasar yang digerakkan ketakutan geopolitik, kembali ke mode perhitungan ulang fundamental dan positioning.

Dari Euforia Geopolitik ke Mode Rem Mendadak

Reli minyak sebelumnya sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Ancaman retorik, pergerakan militer, dan ketegangan diplomatik mendorong pasar mempricing skenario terburuk—yakni terganggunya pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia.

Namun, ketika skenario ekstrem tersebut tak kunjung terwujud, pasar mulai kehabisan alasan untuk mempertahankan harga tinggi. Alhasil, koreksi tajam pun terjadi. Pergerakan ini mencerminkan karakter pasar minyak yang sangat reaktif terhadap headline geopolitik, tetapi juga cepat berbalik arah ketika realisasi tidak sejalan dengan ketakutan awal.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Nada Lebih Lunak Trump Redakan Premi Risiko

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen datang dari pernyataan Donald Trump terkait Timur Tengah. Trump mengecilkan ancaman perang regional yang sebelumnya disuarakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga kembali menegaskan harapannya bahwa kesepakatan dengan Iran masih memungkinkan untuk dicapai.

Nada yang lebih “soft” ini langsung ditangkap pasar sebagai sinyal de-eskalasi. Investor yang sebelumnya membeli minyak sebagai lindung nilai terhadap risiko konflik mulai melepas posisi. Premi risiko geopolitik yang sempat membengkak perlahan menguap, menekan harga kembali ke level yang lebih mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan aktual.

Reset Positioning, Bukan Perubahan Fundamental

Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan harga minyak kali ini lebih menyerupai reset positioning ketimbang perubahan fundamental yang signifikan. Logikanya cukup sederhana: tanpa kejutan pasokan baru, harga minyak hanya mengoreksi premi risiko yang sebelumnya dipasang terlalu agresif.

Banyak trader dan fund manager sebelumnya mengambil posisi long untuk mengantisipasi skenario gangguan pasokan. Ketika skenario itu tak terjadi, posisi-posisi tersebut menjadi rentan untuk dibalik. Penurunan harga yang terjadi pun lebih mencerminkan arus keluar posisi spekulatif ketimbang perubahan drastis dalam keseimbangan pasar fisik.

Diplomasi Eropa Timur Masih Jadi Variabel Penting

Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Eropa Timur. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebutkan bahwa pertemuan trilateral berikutnya antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari di Abu Dhabi.

Meski demikian, pasar belum melihat adanya terobosan signifikan. Perang yang kini mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor struktural penting, terutama karena sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia masih membayangi. Selama sanksi tersebut belum sepenuhnya dicabut, pasokan global tetap berada dalam kondisi “setengah normal”—cukup untuk mencegah lonjakan ekstrem, tetapi tidak cukup longgar untuk menghilangkan sensitivitas harga.

Dari Ketakutan Gangguan Pasokan ke Cerita Surplus Global

Menariknya, reli minyak sebelumnya terjadi di tengah narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pasar takut pasokan terganggu akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, dunia juga sedang menghadapi potensi surplus pasokan global, terutama dari produksi non-OPEC yang masih kuat.

Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana terus menambah kapasitas produksi, sementara pertumbuhan permintaan global menunjukkan tanda-tanda melambat, khususnya dari China. Ketika ketegangan geopolitik mereda, perhatian pasar otomatis kembali ke cerita lama ini: apakah dunia sebenarnya kelebihan minyak?

Sikap OPEC+ Tetap Jadi Penopang, Tapi Bukan Pendorong

Di luar faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ yang mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret, sebagai bagian terakhir dari kebijakan “freeze” tiga bulan. Meski harga sempat naik tajam, kartel memilih tidak mengubah strategi dalam waktu dekat.

Keputusan ini memberikan stabilitas, tetapi tidak cukup kuat untuk menopang harga di tengah arus jual spekulatif. Bagi trader, sikap OPEC+ lebih berfungsi sebagai “lantai” harga jangka menengah, bukan katalis untuk reli lanjutan.

Efek Domino dari Koreksi Aset Lain

Koreksi tajam di pasar logam mulia—terutama emas dan perak—juga ikut memengaruhi sentimen di pasar energi. Penurunan tajam tersebut memicu mode recalibrate risk di berbagai kelas aset. Investor mulai menurunkan eksposur terhadap posisi yang sebelumnya terlalu padat dan sensitif terhadap volatilitas.

Dalam konteks ini, minyak tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari gelombang penyesuaian risiko yang lebih luas, di mana pelaku pasar berusaha menyeimbangkan kembali portofolio setelah periode pergerakan ekstrem.

Pasar Kembali ke Mode Hitung-Hitungan

Pada pukul 08:07 waktu Singapura, harga Brent tercatat turun sekitar 2,4% ke US$67,64 per barel, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54 per barel. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai membuang premi risiko dan kembali ke mode perhitungan rasional.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua hal utama: apakah ketegangan geopolitik kembali memanas, dan bagaimana realisasi keseimbangan pasokan-permintaan global. Tanpa kejutan baru, pasar cenderung bergerak lebih datar dengan volatilitas yang tetap tinggi, tetapi tanpa bias naik yang sekuat bulan lalu.

Kesimpulan: Dari Emosi ke Realitas Pasar

Koreksi harga minyak saat ini menegaskan satu hal penting: reli berbasis ketakutan jarang bertahan lama tanpa konfirmasi nyata. Ketika emosi pasar mereda, realitas fundamental kembali mengambil alih. Dalam kondisi seperti ini, harga minyak tidak lagi digerakkan oleh headline semata, melainkan oleh perhitungan ulang risiko, suplai, dan permintaan global.

Bagi pelaku pasar, fase ini menuntut disiplin dan kehati-hatian. Volatilitas masih akan menjadi ciri utama, tetapi arah pergerakan kemungkinan lebih ditentukan oleh data dan kebijakan nyata ketimbang retorika geopolitik.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures