Minggu, 22 Februari 2026

Bestprofit | Emas Tembus $5.150 di Tengah Uji Tarif Trump

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Stabil-Dolar-Kuat-Batasi-Kenaikan.jpg

Bestprofit (23/2) – Harga emas kembali menunjukkan taringnya di pasar global. Logam mulia ini melanjutkan reli dan mencatat kenaikan mingguan ketiga secara berturut-turut, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat. Situasi memanas setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan penggunaan kekuasaan darurat oleh Donald Trump untuk memberlakukan tarif perdagangan.

Keputusan tersebut menimbulkan tanda tanya besar terkait arah kebijakan tarif AS ke depan. Di tengah ketidakpastian ini, investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), terutama ketika stabilitas perdagangan global kembali dipertaruhkan.

Putusan Mahkamah Agung dan Dampaknya pada Kebijakan Tarif

Putusan Mahkamah Agung yang membatasi kewenangan presiden dalam menggunakan kekuasaan darurat untuk kepentingan tarif menciptakan dinamika baru dalam politik perdagangan AS. Selama ini, kebijakan tarif menjadi salah satu instrumen utama pemerintahan Trump dalam menekan mitra dagang dan memperkuat posisi negosiasi Amerika.

Namun, dengan adanya pembatalan tersebut, muncul spekulasi mengenai kelanjutan kebijakan proteksionisme yang selama ini menjadi ciri khas strategi perdagangan Trump. Meski pejabat senior AS menyatakan bahwa putusan tersebut tidak otomatis membatalkan kesepakatan yang telah dinegosiasikan, ketidakjelasan tetap membayangi pasar.

Kondisi ini diperburuk oleh pernyataan Trump pada Sabtu yang menyebutkan rencana kenaikan tarif global dari 10% menjadi 15%. Rencana tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan langkah proteksionisme, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan baru dengan mitra dagang utama.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Reaksi Uni Eropa dan Risiko Perdagangan Global

Ketidakpastian kebijakan AS turut memicu respons dari Eropa. Uni Eropa mengancam akan menunda ratifikasi pakta perdagangan dengan Amerika Serikat hingga terdapat kejelasan arah kebijakan tarif.

Ancaman tersebut menambah lapisan risiko baru dalam perdagangan lintas kawasan. Jika negosiasi kembali tersendat atau terjadi eskalasi tarif, dampaknya bisa meluas pada rantai pasok global, investasi internasional, serta pertumbuhan ekonomi dunia.

Pasar keuangan secara umum tidak menyukai ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas dan perak.

Harga Emas Tembus Level Psikologis

Pada perdagangan awal pekan, emas batangan sempat menguat hingga 0,9% dan bergerak di atas level $5.150 per ons. Level ini menjadi perhatian pasar karena dianggap sebagai titik psikologis penting yang mencerminkan kuatnya momentum kenaikan.

Emas spot tercatat naik 0,8% menjadi $5.145,79 per ons pada pukul 07:31 di Singapura. Kenaikan ini memperpanjang tren positif dalam tiga minggu terakhir, sekaligus mempertegas posisi emas sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi.

Reli ini bukan semata-mata dipicu oleh isu tarif, tetapi juga didukung oleh faktor lain seperti pelemahan dolar AS serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pelemahan Dolar Tambah Daya Tarik Emas

Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat melemah 0,2% pada Jumat. Pelemahan dolar memberikan dorongan tambahan bagi harga emas, karena logam mulia ini dihargai dalam mata uang AS.

Ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini meningkatkan permintaan global dan mendukung kenaikan harga.

Hubungan terbalik antara dolar dan emas telah lama menjadi pola yang diperhatikan pelaku pasar. Dalam konteks saat ini, kombinasi ketidakpastian kebijakan dagang dan pelemahan dolar menciptakan momentum ganda bagi penguatan emas.

Perak Ikut Terkerek Naik

Tidak hanya emas yang menikmati reli. Harga perak juga menguat signifikan, naik 1,9% dan memperpanjang tren positifnya. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi pelemahan dolar serta meningkatnya permintaan safe haven.

Selain sebagai aset lindung nilai, perak juga memiliki fungsi industri yang luas, mulai dari sektor elektronik hingga energi terbarukan. Oleh karena itu, pergerakan harga perak sering kali dipengaruhi oleh dua faktor sekaligus: sentimen investasi dan prospek pertumbuhan ekonomi.

Dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini, permintaan investasi terhadap perak meningkat, mengikuti jejak emas sebagai instrumen perlindungan nilai.

Safe Haven Kembali Jadi Primadona

Ketika risiko meningkat—baik akibat ketegangan perdagangan, ketidakpastian politik, maupun volatilitas pasar keuangan—aset safe haven cenderung menjadi pilihan utama investor. Emas memiliki reputasi panjang sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil dalam jangka panjang.

Lonjakan minat terhadap emas saat ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap stabilitas kebijakan perdagangan AS. Selama arah kebijakan belum jelas dan potensi eskalasi tarif masih terbuka, permintaan terhadap logam mulia diperkirakan tetap kuat.

Selain itu, ketegangan dagang juga dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global. Jika tarif meningkat dan negosiasi tersendat, aktivitas perdagangan bisa melambat, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan dan meningkatkan risiko resesi. Dalam skenario seperti itu, emas biasanya menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan.

Prospek Ke Depan: Konsolidasi atau Lanjut Reli?

Pertanyaan besar bagi pelaku pasar kini adalah apakah reli emas akan berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi. Secara teknikal, penembusan di atas level $5.150 per ons membuka peluang untuk penguatan lebih lanjut, terutama jika sentimen risiko tetap tinggi.

Namun, jika terdapat kejelasan kebijakan dari pemerintah AS atau tercapai kesepakatan dagang yang stabil dengan mitra utama, tekanan terhadap emas bisa meningkat karena investor kembali beralih ke aset berisiko.

Faktor lain yang akan memengaruhi pergerakan emas adalah kebijakan suku bunga dan inflasi. Jika tekanan inflasi meningkat atau bank sentral mengambil sikap yang lebih akomodatif, daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi juga akan semakin kuat.

Kesimpulan

Reli emas selama tiga pekan berturut-turut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatasi penggunaan kekuasaan darurat oleh Donald Trump telah memicu dinamika baru dalam kebijakan tarif.

Ancaman kenaikan tarif hingga 15% serta respons keras dari Uni Eropa semakin mempertegas risiko ketegangan perdagangan global. Ditambah dengan pelemahan dolar AS, kondisi ini menciptakan kombinasi ideal bagi penguatan emas dan perak.

Selama ketidakpastian masih membayangi dan arah kebijakan belum benar-benar final, emas kemungkinan akan tetap menjadi primadona di pasar global. Bagi investor, periode seperti ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi dan perlindungan nilai tetap penting dalam menghadapi dinamika ekonomi dan politik yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar